“Pemimpin”, kata tersebut sangatlah sering kita dengar, namun nyatanya tidak semua orang mampu mendefinisikan kata “pemimpin” dengan benar. Kebanyakan orang berasumsi bahwa seorang pemimpin adalah orang yang bertugas memerintahi anggotanya saja, pendapat seperti itu sudah pasti tidaklah benar, karena seorang pemimpin diartikan sebagai seorang yang mempunyai visi misi untuk organisasinya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus memiliki passion dalam membangun kelompoknya dan dapat membimbing setiap anggotanya unutuk berkembang menjadi lebih baik.

Berdasarkan kriteria diatas, saya mengategorikan B.J Habibie sebagai pemimpin yang sangat kompeten dan inspiratif. B.J. Habibie merupakan presiden ketiga Indonesia yang mempunyai banyak pengalaman dalam memimpin, sehingga dari beliau kita dapat banyak belajar mengenai kepemimpinan ataupun mengenai perjuangan beliau dalam menjalani asam-manis kehidupan.

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dipanggil B.J. Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Di mana masa kecil seorang B.J. Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Saat beranjak dewasa B.J. Habibie pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di Gouvernments Middlebare School, dan pada semasa SMA inilah beliau mulai menonjol dalam bidang prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Itulah pula yang menjadikannya sosok paling favorit di sekolahnya. Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung.

Beliau juga mendapatkan gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gelar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Perjuangan dan semangat Habibie dalam menuntut ilmu inilah yang menjadikannya banyak dikagumi, karena beliau tak hanya merasa cukup untuk menggali ilmu di negara sendiri, beliau juga menggali ilmu di negara lain, hal inilah yang menjadikannya nilai plus tersendiri akan kualifikasinya dibandingkan dengan orang lain pada masanya. Sepuluh tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude, tak menjadikan beliau untuk berhenti berprestasi dan berkarya dalam bidang yang ditekuninya, terbukti dengan banyaknya penghargaan Internasional yang diraihnya dan karya-karyanya dalam menghitung serta mendesain beberapa proyek pesawat terbang itu mendapatkan pengakuan dari seluruh belahan dunia.

Tak hanya dalam bidang ilmu pengetahuan saja skills yang Habibie miliki, namun dalam softskills pula beliau menunjukan kemampuannya yakni dalam hal leadership atau kepemimpinan, dengan banyaknya jabatan sebagai ketua yang pernah beliau pegang, menjadikan Habibie sebagai pemimpin yang tak hanya memiliki intergritas yang tinggi namun juga kaya akan pengetahuan. Hal ini mungkin menjadi alasan terkuat beliau sehingga dapat terpilih sebagai presiden ketiga NKRI.

Pada masa pemerintahan B.J. Habibie, kehidupan politik di Indonesia mengalami beberapa perubahan. Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie ditandai dengan dimulainya kerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu, B.J. Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan memberikan kebebasan dalam berekspresi.

Walaupun banyaknya masalah yang timbul semasa pemerintahan Habibie, beliau selalu berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa mengabaikan kepentingan rakyat diatas segalanya. Perjuangan beliau dalam mencari solusi bagi setiap masalah ini yang patut kita hargai karena ditengah rasa konflik yang tidak berakhir beliau tetap berpikir rasional untuk mencari jawaban dari setiap perkara yang ada.

Sosok seperti inilah yang dapat kita jadikan sebagai contoh Pemimpin inspiratif berintergritas tinggi, dalam cara menjalankan kepemimpinannya Habibie memanglah berbeda, karena beliau memiliki pendirian yang kuat sehingga tidak dapat digoyahkan oleh faktor luar yang ingin menghancurkan NKRI. Kecerdasan dan sifat idealisnya membuat orang lain merasa terinspirasi dengan perjuangannya. Perjuangan yang telah dilakukannya tidak semata hanya untuk memperkaya diri melainkan rasa tanggung jawabnya yang besar untuk bangsanya.

Semoga dari cerminan sikap Pemimpin B.J Habibie diatas dapat kita jadikan pelajaran terutama mengenai sikap-sikap positif yang dapat mengokohkan diri kita untuk menjadi seorang pemimpin,setidaknya kita harus mampu menjadi pemimpin diri kita sendiri dalam menghadapi persaingan kehidupan pada era selanjutnya.

“Tantangan kepemimpinan adalah untuk menjadi kuat, tapi tidak kasar,
bersikap baik, tapi tidak lemah,
berani, tapi tidak menjadi pengganggu,
menjadi bijaksana, tapi tidak malas,
rendah hati, tapi tidak malu-malu;
bangga, tapi tidak sombong;
memiliki humor, tetapi tanpa kebodohan “.
– Jim Rohn, pengusaha, penulis dan pembicara motivasi

 

Oleh Dyah Prani Nur F. (Angkatan 61/ Beswan Gen-4) 

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *