image-title

Tak seperti sabtu pada umumnya dimana aku bersiap pagi-pagi untuk pergi ke pasar dan berbelanja keperluan memasak. Berharap semua tugas rumah segera selesai dan aku bisa pergi ke sekolah untuk sekedar mengikuti perkumpulan rutin ekstrakulikuler pecinta alam yang diadakan setiap Sabtu.

Kali ini aku bersiap pagi-pagi, tapi bukan untuk berbelanja. Melainkan untuk pergi ke Jakarta! Kota metropolitan yang terkenal akan kemacetan dan hiruk pikuk warganya. Kota yang sama yang disebut kota Batavia, tempat berkumpulnya sejarah dari masa lampau, sekaligus tempat dibangunnya masa depan yang kapan datangnya pun aku tak tau.

Salah satu transportasi yang menjadi pilihanku untuk pergi ke Jakarta adalah kereta listrik atau yang lebih dikenal dengan  istilah Commuter Line. Tak sesuai ekspektasiku, hari sabtu di Jakarta tak sepadat seperti yang kulihat di TV-TV.

Biasanya kereta menuju Jakarta sangat padat. Pundak-pundak orang bersentuhan aroma parfum dan keringat yang bercampur aduk, hingga anak-anak yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. Namun kali ini berbeda, walaupun ramai, tapi kereta yang kutumpangi tidak seramai biasanya.

Masih ada kursi kosong tersedia untuk kugunakan duduk dan memejamkan mata walau hanya sebentar. Disamping kiriku ada laki-laki yang mengenakan Headphone  sambil mendengarkan lagu grup musik Korea, black-pink dengan suara yang sangat kencang. Bahkan aku pun bisa mendengarnya.

Lain halnya dengan wanita yang berada di samping kananku, dia asyik bermain game Temple Run. Men-swipe jarinya ke kanan dan ke kiri , dan saat pemainnya masuk ke jurang dia terlihat sedikit terlonjak dan mengeluh “yaelah”.

Setelah perjalanan satu setengah jam di kereta, ditambah satu jam lagi untuk menunggu temanku yang lain datang. Akhirnya aku memulai perjalanan untuk berkeliling jakarta.

Jakarta terlihat seperti tempat berkumpulnya gedung tinggi. Gedung-gedung yang tingginya tak kurang dari sepuluh hingga tiga puluh lantai dapat kulihat di depan, belakang, dan kanan-kiriku. Beberapa bajaj terparkir dengan rapi di tepi jalan, membentuk barisan berwarna biru, orang didalamnya berteriak  “Yok museum gajah, Neng!”.

Ada juga delman yang keretanya sudah dihiasi dengan berbagai pernak-pernik berwarna hijau, merah, biru, bahkan kuning. Dengan kuda yang juga telah didandani dengan hiasan di kepala dan kakinya, semacam benang yang diikat menjadi berbentuk bel berwarna merah putih. Namun jumlah delman disini dapat dihitung dengan jari, mungkin hanya lima atau enam  yang aku lihat.

Di trotoar ada juga beberapa kursi yang disediakan untuk para pejalan kaki. Kursi-kursi berwarna putih dengan hiasan maskot Asean Games dibelakangnya. Tapi tidak ada orang yang mendudukinya, entah karena mereka sibuk, atau lokasi kursi yang kurang strategis karena tepat dibawah terik matahari.

Tiba di Museum Nasional RI

Setelah kurang lebih dua puluh menit di perjalanan, akhirnya aku sampai ke destinasi pertamaku; Museum Nasional RI. Entah mengapa aku baru sadar bahwa Museum Gajah yang dimaksud supir bajaj tadi adalah Museum Nasional, karena jika diperhatikan di bagian depan museum terdapat sebuah patung gajah dengan belalai dan perut gendutnya.

Bagian depan Museum ini didesain dengan gaya kolonial namun futuristik. Kesan kolonial terlihat dari bagunan yang didominasi dengan cat berwarna putih dengan pilar-pilar setinggi empat sampai lima meter. Dibagian ujung atas dan bawah pilar-pilar itu terdapat ukiran dengan bentuk yang beragam.

Ditambah lagi dengan model jendela dan pintu kayu yang dengan tinggi mencapai tiga kali orang dewasa semakin mempererat kesan kolonial dan mengingatkanku pada bangunan yang sering ditampilkan di film-film jaman dulu, rumah pejabat kompeni.

Sementara kesan futuristik disuguhkan di bagian kanan depan museum, dimana terdapat sebuah pajangan. Sebuah objek berbentuk setengah bola berwarna hitam dengan diameter kurang lebih lima meter. Di dalamnya dibuat seakan ada beberapa orang yang sedang terseret dalam  ombak, atau bahkan lebih seperti pusaran. Seorang anak bahkan berteriak “Ibu, aku mau liat blackhole”.

Masih dengan gaya kolonial yang elegan, bagian dalam museum juga didominasi dengan warna putih. Saat memasuki ruangan pertama dalam Museum, aku disuguhi pemandangan patung, arca, relief, hingga prasasti yang disusun dengan rapi. Di setiap display place-nya terdapat tulisan yang intinya;  dilarang menyentuh semua koleksi Museum.

Yang menarik adalah, beberapa patung Buddha yang terdapat di ruangan ini hanya dipajang bagian kepalanya saja. Patung-patung itu terlihat seperti korban hukum pancung, dengan mata terpejam, dan rambut yang terlihat ikal dan melingkar.

Ada juga sebuah patung Buddha raksasa, tingginya kira-kira tiga meter. Sebenarnya tak ada yang aneh dari patung ini selain hidung dan jemari kakinya yang patah. Sebagian besar patung yang ada di ruangan ini memang tidak utuh. Ada yang patah di bagian hidung, tangan, kaki, bahkan kepala.

Masuk ke bagian selanjutnya dari museum. Sebuah ruangan terbuka dengan area hijau yang dihiasi patung patung ditengahnya. Di sekitar area tersebut terdapat banyak peninggalan sejarah. Baik berupa relief, arca Hindu maupun Buddha, alat mandi orang jaman dulu, bahkan perangkat beribadah.

Pada lorong-lorong di sekitar area tersebut terdapat bermacam-macam koleksi museum. Patung Dewa Syiwa, Dewa Brahma, Dewi Kali, Arca Buto Kala dan lain-lain. Jika diperhatikan koleksi di museum ini didominasi dengan peninggalan yang bercorak agama Hindu dan Buddha. Karena memang pada zaman pra-kolonial, kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia menganut ajaran tersebut.

Salah satu koleksi museum yang menarik perhatianku adalah dua buah patung Hindu. Patung itu menggambarkan Dewi Kali dan Dewi Parvati. Patung Dewi kali digambarkan agak menyeramkan, dengan mata yang terkesan agak keluar.

Lehernya juga dishiasi kalung tengkorak, serta kakinya yang menginjak belasan tengkorak kepala manusia. Ditambah lagi dengan tangannya yang memegang banyak senjata. Sementara patung Dewi Parvati digambarkan elok. Dengan perhiasan yang melingkar di lehernya, rambut panjang yang tergerai, gelang di tangan dan kaki. Dipercantik dengan kesan tangan yang sedang memberi restu bagi orang yang berdiri dihadapannya.

Namun yang menarik bagiku bukan penampakannya, tapi cerita dibaliknya. Setelah kuketahui, ternyata Dewi Kali dan Dewi Parvati adalah orang yang sama, yaitu Istri dari Dewa Syiwa. Dimana Dewi Kali adalah perwujudan Dewi Parvati yang sedang marah pada suaminya.

Karena ternyata istilah Sulis (suami sieun istri/ suami takut istri) bukan hanya berlaku dikalangan manusia saja, tapi juga dikalangan para dewa. Karena hanya Dewi Kali lah yang mampu menenangkan Dewa Syiwa yang sedang marah.

Makna dari Patung

Ruang pameran yang paling menarik untukku di Museum Nasional adalah ruang pameran patung, arca, serta relief yang kukunjungi diawal. Selain karena barang-barang yang dipajang mengandung kesan magical, banyak juga pelajaran yang dapat aku ambil.

Salah satunya adalah patung Buta Kala. Buta sendiri diambil dari bahasa jawa yang artinya raksasa dan kala berarti waktu. Patung ini digambarkan dengan cukup menyeramkan. Mata bulat dan besar seolah akan keluar. Empat taring yang panjang dan tajam, saking panjangnya sampai keluar dari mulut. Hidung pesek dengan ekspresi yang tak ramah. Seolah akan melahap siapa saja yang ada didepannya.

Kesan pertama setelah melihat patung Buta Kala adalah, jika aku melawannya, aku pasti akan habis dilahap olehnya. Dan memang itu kesan yang diharapkan oleh nenek moyang kita pada zaman dahulu.Patung itu seolah memberitahu aku jika aku tidak menghargai waktu, maka waktu tidak akan segan-segan untuk melahap diriku, meninggalkan kita dalam kesengsaraan. Jika kita abai terhadap waktu, maka waktu juga akan abai terhadap kita.

Dari perjalanan kali ini, aku dapat melihat bahwa patung-patung, relief, arca dan koleksi lain di Museum Nasional yang menggambarkan kehidupan manusia pada masa lampau, terlihat lebih manusiawi dibandikan manusia pada masa sekarang ini.

Mungkin bukan bendanya, tapi orang-orang yang terpikir untuk membuat  karya dengan pesan moral yang sedemikian detail. Nenek moyang kita membangun tata cara beribadah yang sebisa mungkin  menjaga alam. Membuat cerita menakutkan yang sebenarnya berisi pesan bagi kita untuk tidak abai terhadap lingkungan.

Mungkin dahulu mereka sudah memikirkan betapa manusia sangat lemah jika harus melawan keegoisan dan ketamakan diri mereka sendiri. Hingga suatu saat keegoisan dan ketamakan itulah yang akan menjadi bumerang bagi diri mereka.

Maka dari itu mereka membangun dan menyisakan peninggalan untuk kita lihat, kita pelajari. Untuk membuat kita malu dengan keadaan bumi kita yang sekarang, untuk membuat kita malu akan betapa sebuah patung dapat memberi pelajaran yang tidak kita dapatkan dimanapun. Untuk membuat kita ingat kembali, apa tugas kita sebagai manusia.

oleh Aliefi Mutiara Syafitri

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

2 thoughts on “Belajar dari Patung

Pingback: Tematik Ke-2 2019, Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam - Yayasan BAS

  • Virgia

    Halo Aliefi, terimakasih sudah berbagi pengalaman nya.
    Penggambaran situasi perjalanan yang bisa aku bayangkan ketika membaca tulisanmu, namun sedikit membuatku berpikir “lama sekali menuju bagian isi dari tulisan ini.” Entah bagaimana dengan pembaca yang lain, mungkin perasaanku saja. Pada bagian isi, penggunaan kata yang tepat juga penting dan kamu melakukannya dengan cukup baik. Juga terdapat pesan moral di bagian penutupnya. Bagus!
    Ada typo di kalimat “dishiasi”, yang seharusnya “dihiasi”. Hanya itu saja, lebih teliti lagi ya sebelum di posting. Semangat menulis! Ditunggu tulisan berikutnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *