image-title

Pada hari Sabtu, 22 Februari 2019 di SMK-SMAK Bogor, Yayasan BAS meyelenggarakan pembukaan Program BAS Generasi ke-6. Acara tersebut dihadiri oleh orang tua dari penerima manfaat (Beswan), pihak yayasan, dan pihak sekolah.

Pembukaan Program ini bertujuan untuk menjalin silaturahim antara orang tua Beswan, pihak sekolah dan pihak yayasan. Pada acara kali ini Yayasan BAS menyampaikan program yang akan dijalani oleh lima belas Beswan selama mengikuti Program BAS Generasi ke-6.

Dalam sambutannya, Pak Arief selaku perwakilan sekolah mengucapkan terima kasih kepada Yayasan BAS yang peduli dan bersedia untuk membantu Siswa. Pak Arief juga menambahkan semoga program BAS ini terus berlanjut.

Salah satu kegiatan yang akan dilaksanakan selama Program BAS Generasi ke-6 adalah kegiatan tematik yang akan dilaksanakan sekali dalam sebulan. Salah satu orang tua Beswan menyampaikan saran untuk menyelenggarakan tematik yang membahas tentang kehidupan setelah sekolah, sehingga dapat meyakinkan Beswan untuk memilih melanjutkan kuliah atau bekerja setelah lulus dari sekolah.

Sandi selaku perwakilan Yayasan BAS menanggapi, “Alhamdulillah pada generasi BAS sebelumnya kegiatan tematik dengan tema tersebut selalu kami laksanakan. Jadi nantinya kami akan menghadirkan dua narasumber, satu narasumber yang sudah memiliki pengalaman kerja yang banyak dan satu narasumber dengan gelar pendidikan yang tinggi.”

Selain itu ada juga orang tua Beswan yang menyampaikan rasa terima kasihnya kepada yayasan BAS karena telah menyelenggarakan program ini dan bersedia untuk membantu Beswan.

Tematik-1 Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional

Setelah pembukaan Program BAS selesai, acara dilanjutkan dengan kegiatan Tematik-1 bertema “Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional” yang diikuti oleh seluruh Beswan.

Tema ini dipilih dengan harapan Beswan memiliki kemampuan untuk memimpin diri sendiri atau bahkan memimpin orang lain, dengan kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam materinya, Gustav sebagai narasumber menyampaikan materi Komunikasi Profesional menjelaskan tujuan komunikasi yang baik, unsur-unsur komunikasi, dan model komunikasi. Ia menegaskan, “Tujuan dari model komunikasi adalah untuk memudahkan analisis dan merancang keputusan yang akan diambil.”

Sedangkan materi Kepemimpinan oleh Sandi, ”Pemimpin itu dibentuk, karena semakin banyak jam terbang dan banyak permasalahan yang dilalui, maka akan semakin terbentuk kepemimpinannya.” terang Sandi. Ia juga menambahkan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin dapat dimulai dengan memimpin diri sendiri, tidak harus diawali menjadi pemimpin di suatu organisasi.

Selanjutnya, pemaparan materi kepenulisan dan pemberian tugas menulis. Tulisan Beswan yang terkumpul akan disimpan sebagai arsip yayasan dan berpotensi untuk masuk ke dalam website yayasan. Selain itu tulisan Beswan nantinya akan diterbitkan sebagai sebuah buku karya Beswan yang akan di launching pada akhir program dan/atau waktu setelah program selesai.

Terakhir, Beswan menandatangani akad Beasiswa oleh pengurus Yayasan BAS serta pembagian uang saku kepada Beswan. Acara ditutup dengan sesi foto bersama.

Read More
image-title

Sabtu, 23 Februari 2019, Yayasan BAS mengadakan Tematik ke-3 untuk Penerima Manfaat (Beswan) Generasi 5 bertema Kehidupan Pasca Sekolah. Metode dalam mencapai sasaran tujuan tematik ini melalui pembelajaran pengalaman pribadi narasumber yang diperkaya dengan tanya jawab. Tematik ini dihadiri 19 Beswan karena seorang Beswan sedang sakit.

Kegiatan berlangsung di Sekolah mulai pukul 08 s.d. 15 WIB yang menghadirkan tiga narasumber. Mereka berbeda pilihan saat lulus sekolah di zamannya. Narasumber pertama memilih langsung bekerja, narasumber kedua memilih langsung kuliah, dan narasumber ketiga menjalankan bekerja sekaligus kuliah.

Yuk kita simak tulisan Beswan berikut yang menggambarkan intisari dari apa-apa yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan pertama oleh Maulana berjudul Kehidupan Pasca SMAKBO. Pilihanku adalah jalan kesuksesanku (klik judul) adalah tulisan kedua oleh M Raafi Adhasyah. Ketiga, Aliefi Mutiara Syafitri yang menulis Bingung Menentukan Masa Depan? Nggak Zaman! (klik judul). Selamat menikmati.

 

Kehidupan Pasca SMAKBO

Samsul Maulana

Sering muncul dalam benak anak-anak SMAKBo sebuah pertanyaan “Apa yang akan kulakukan setelah lulus nanti?” Terutamanya sering terjadi pada kelas 12 dan kelas 13 yang akan segera lulus dari SMAKBo. Sebagai sekolah vokasi, lulusan SMAKBo dirancang sebagai individu yang siap kerja. Namun tidak sedikit pula yang ingin melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, dengan alasan jenjang pedidikan yang tinggi adalah sebuah tuntutan dalam menghadapi pasar bebas dunia. Lalu bagaimana jika memilih bekerja yang diimbangi dengan kuliah setelah lulus dari SMAKBo?

Kegiatan yang dilaksanakan di dalam sekolah ini mengundang 3 narasumber yang merupakan alumni SMAKBo. Ketiganya memiliki pengalaman kehidupan pasca SMAKBo yang berbeda. Yaitu :

Bekerja

Sarjono Budi Santoso, Alumni SMAKBo angkatan 25 yang biasa disapa om MJ ini adalah narasumber yang memiliki pengalaman kehidupan pasca SMAKBo langsung bekerja. Continue reading Tematik Ke-3 2019, Kehidupan Pasca Sekolah

Read More
image-title

Sabtu, 9 Februari 2019, Yayasan BAS mengadakan Tematik ke-2 untuk Penerima Manfaat (Beswan) Generasi 5 bertema Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam. Tema ini dipilih karena kami meyakini, setiap penduduk Indonesia apapun bidang keilmuannya, haruslah memiliki rasa Cinta terhadap Tanah Air serta berpikir untuk melestarikan alam. Pembelajaran tersebut tidak harus melulu di dalam kelas, membangkitkan rasa Cinta Tanah Air dapat dicapai melalui kunjungan ke fasilitas publik yang sarat dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Kali ini, 20 Beswan mengunjungi 2 tempat di Jakarta yaitu Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI. Ingin tahu seperti apa keseruan kegiatan Tematik ke-2 ini, yuk simak tulisan Beswan berikut. Pertama berjudul Memaknai Kebudayaan Indonesia oleh Difa Afiyah Sucisatryani, judul kedua Belajar dari Patung (klik judul) oleh Aliefi Mutiara Syafitri. Selamat menikmati.

Memaknai Kebudayaan Indonesia

Difa Afiyah Sucisatryani

Pada hari Sabtu, 9 Februari 2018 adalah salah satu hari yang sangat berharga untukku. Pada hari itu, aku dan teman-teman dari “Beswan Gen 5” mengikuti kegiatan tematik ke-2 yang dilaksanakan di Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI yang berada di Jakarta. Kenapa aku sebut sebagai hari yang berharga? Itu bukan kalimat hiperbola semata, tetapi adalah suatu fakta yang pada hari itu aku dapat mengenal sejarah budaya Indonesia lebih dalam lagi sekaligus melakukan tafakur alam.

Pembukaan yang sangat menyentuh dalam kegiatan tematik kali ini adalah ‘orang dulu lebih bijak persoalan lingkungan‘, begitulah sekiranya kalimat yang disampaikan oleh Kak Reyhan selaku tourguide saat kita berada di Museum Nasional. Jika Kalian pergi ke Museum Nasional, kalian akan disambut dengan banyaknya arca-arca Budha dan Hindu, patung-patung kuno, dan prasasti. Hal itu yang membuat mataku terpesona dengan setiap pahatan yang dibuat orang zaman dulu. Aku semakin berpikir bahwa dari zaman dahulu Indonesia sudah maju dengan ilmu pahatan di atas batunya yang  juga dipandang luar biasa oleh bangsa asing.

Akan kukenalkan salah satu patung yang menarik perhatianku dan masih aku ingat jelas bentuknya sampai saat ini. Patung itu bernamakan Kala. Digambarkan dengan sebuah kepala dengan kedua mata yang melotot menambah kesan seram pada patung tersebut. Usut punya usut, Kala digambarkan seperti itu agar menyerupai malaikat pencabut nyawa yang sebenarnya makna Kala adalah menggambarkan waktu. Semakin dipikirkan, waktu yang terbuang sia-sia akan menjadi menyeramkan disaat hari pertanggung-jawaban tiba. Dan juga waktu tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Itulah mengapa Kala digambarkan seseram itu. Continue reading Tematik Ke-2 2019, Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam

Read More
image-title

Sabtu, 26 Januari 2019, 20 penerima manfaat Beasiswa BAS mengikuti Tematik bertema Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional. Ada 2 fasilitator, Juang Akbar Magenda bercerita tentang Kepemimpinan, dilanjutkan dengan Puji Maharani membahas tentang pentingnya Komunikasi yang Efektif. Benang merah dari tema ini seperti yang dikatakan Puji, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik”.

Sebagai konfirmasi pemahaman Beswan, setiap Beswan membuat satu tulisan utuh seputar topik kepemimpinan dan kepemimpinan profesional. Berikut tulisan berjudul Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin oleh M Raafi Adhasyah dan Angan-Angan Si Pemalu oleh Nurul Bunga Kurnia, selamat membaca.

Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin

M Raafi Adhasyah

Seorang pemimpin harus mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah komunikasi. Dengan komunikasi efektif, pemimpin dapat mengajak, mengarahkan, dan menggerakan anggota untuk mencapai kepentingan bersama. Semua orang pasti mempunyai sikap kepemimpinan masing-masing, namun tidak semua orang berbakat atau bisa menjadi pemimpin, maka dari itu diperlukan pelatihan/seminar kepemimpinan seperti yang dilakukan Yayasan BAS untuk Beswan Gen 5 pada hari Sabtu, 26 Januari 2019.

Pemimpin tidak boleh hanya mementingkan jabatan. Memang benar, semua orang yang punya jabatan tinggi  umumnya punya sikap kepemimpinan yang bagus. Tetapi, saat melakukan pekerjaan, pemimpin harus bersikap selayaknya dan harus fokus pada tujuan. Harapkanlah kesuksesan bersama, anggaplah sebuah jabatan sebagai hadiah atas keberhasilan bersama.

Pemimpin pun harus mengesampingkan egonya. Memang puas rasanya untuk memaksakan ego. Namun, apa anggota yang lain juga puas? Karena itu pemimpin harus bisa memahami, mengetahui kemampuan, dan mengenal anggotanya, dengan begitu pemimpin dapat mewujudkan keberhasilan dan tentu anggota juga akan merasa puas dengan kinerjanya masing-masing. Untuk mewujudkan ini pemimpin harus melakukan berbagai macam pendekatan dan berkomunikasi dengan anggota. Pemimpin dapat dikatakan benar-benar menjadi seorang pemimpin apabila dapat merangkul anggotanya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya pemimpin harus dapat berkomunikasi efektif. Tidak semua orang bisa melakukan hal ini, tapi bagi orang yang bisa melakukan ini maka dapat dikatakan dia berbakat sebagai pemimpin. Puji Maharani berkata cara untuk komunikasi efektif adalah dengan memberlakukan 3C yaitu CLEAR (jelas) – CONCISE (ringkas) – COMPLETE (lengkap). Dara kelahiran Surabaya yang tumbuh besar di Bandung ini menanyakan kepada seluruh Beswan Gen 5,

“Apa itu komunikasi? Coba Anda jelaskan dengan satu kata!” Continue reading Tematik ke-1 2019, Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional

Read More
image-title

Tema tematik kali ini ‘Kehidupan Pasca SMAKBO.’ Rizki, seorang Beswan berkata, Tematik ini penting karena beswan membutuhkan arahan dan bayangan bagaimana kehidupan setelah lulus dari SMAKBO.”

Pemateri pertama adalah Sarjono Budi Santoso. Beliau alumni dari SAKMA (sebelum berganti nama menjadi SMAKBO) angkatan 25. Setelah lulus dari SMAKBO, beliau langsung masuk ke dunia industri tanpa berkuliah terlebih dahulu.

Beliau berkata, “Alumni dari SAKMA tidak pernah kekurangan pekerjaan, karena kualitas lulusannya baik, dan juga kala itu ekonomi indonesia sedang sangat kuat. Sehingga tenaga analis kimia banyak dibutuhkan di dunia industri.”

Beliau juga memberikan saran bagi para beswan untuk mempelajari bahasa asing selain bahasa inggris, seperti bahasa Mandarin. Karena bila seseorang menguasai banyak bahasa, menjadi added value atau nilai tambah bagi dirinya.

Beliau berkata bahwa penguasaan bahasa itu penting karena tanpa kemampuan berbahasa, maka kita akan tertinggal. Terlebih di era sekarang ini, saat ekonomi indonesia sudah masuk ke era pasar bebas aktif yang mana banyak pengusaha dari luar negeri khususnya China yang mendominasi perekonomian di Asia. Sehingga untuk membangun relasi yang luas, maka kita harus mampu berkomunikasi, dan yang mendukung hal tersebut adalah kemampuan berbahasa.

Selain kemampuan berbahasa dan keterampilan dalam pekerjaan, beliau menekankan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki seseorang adalah soft skill. Dimana soft skill ini dapat berupa kemampuan dalam beradaptasi di lingkungan baru, kemampuan membawa diri, kemampuan berpikir kritis, dan lain-lain.

Karena tanpa hal-hal tersebut, sebaik apapun keterampilan seseorang, dia tidak akan bisa berkembang di lingkungannya dan tidak akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang terakhir, untuk mencapai kesuksesan, hal yang harus kita miliki adalah rahmat dari Tuhan YME, karena tanpa rahmat-Nya, apa yang kita usahakan akan sia-sia.

Memilih Kuliah

Pemateri kedua adalah Yusuf Noer Arifin. Ia alumni SMAKBO angkatan 59, dan merupakan bintang pelajar di angkatannya. Ia memaparkan tentang seberapa pentingnya kuliah dan kenapa lulusan SMAKBO harus berkuliah.

Dalam bangku perkuliahan, alumni SMAKBO akan mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan selama masih bersekolah. Dengan berkuliah, maka mereka bisa lebih mengembangkan soft skill (organisasi, kepanitiaan, dsb). Dan diberi ruang yang lebih luas untuk meng-explore bidang yang diminati.

Dalam dunia perkuliahan, terdapat beberapa aspek yang ditempa secara terus menerus, yaitu karakter, soft skill, ilmu, relasi, dan pengalaman. Berhasil atau tidaknya tempaan tersebut bergantung mahasiswa tsb, karena mereka diberikan ruang gerak yang lebih luas untuk membentuk dan mengatur dirinya sendiri.

Dengan bekal keterampilan dari SMAKBO, ditambah lagi dengan 5 aspek yang dikuasai di dunia perkuliahan, maka lulusan SMAKBO dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan berkembang sebelum masuk ke dunia industri.

Bekerja Sembari Kuliah

Pemateri ketiga adalah Fachrizka Mubianty. Ia alumni SMAKBO angkatan 51 yang setelah lulus dari SMAKBO melanjutkan pekerjaannya sebagai analis sekaligus berkuliah.

Ia mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapatkan seseorang yang bekerja dan mengambil kelas ekstensi di perkuliahan. Waktu menjadi lebih efisien dan lebih paham bagaimana caranya mengatur waktu serta membangun banyak relasi dalam waktu yang bersamaan.

Namun, bekerja sekaligus kuliah tidaklah mudah. Seseorang harus rela mengorbankan waktu istirahat di akhir minggu untuk bekerja dan menghabiskan hari-hari biasa untuk bekerja. Ditambah lagi dengan tugas kuliah yang juga cukup memberatkan, bukan tidak mungkin orang yang mau bekerja sambil kuliah mengalami stres karena pekerjaan dan tugas-tugasnya yang lain. Sehingga keduanya dapat terlalaikan. Maka, sebelum memilih jalan apa yang ingin dilakukan setelah lulus dari SMAKBO harus mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari kemampuan pribadi, kondisi kesehatan, dan lain lain.

Setelah sesi materi selesai beberapa beswan berkata “waduh, tambah goyah nih mau gimana setelah lulus.” Namun, beberapa yang lain merasa bahwa informasi yang disampaikan oleh pemateri justru memantapkan niatnya. Baik itu langsung bekerja, kuliah, ataupun bekerja sambil berkuliah.

oleh Aliefi Mutiara Syafitri (Angkatan 62, Beswan Generasi 5)

Read More
image-title

Umumnya, para pelajar memikirkan setelah lulus nanti apa yang akan mereka lakukan. Mereka menghadapi pilihan untuk lanjut kuliah/kerja/bekerja sambil kuliah. Setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangannya, pelajar harus siap menanggung risiko dari pilihan tersebut dan tentu harus bertanggung jawab dengan atas pilihannya.

Memilih Langsung Bekerja

Narasumber pertama adalah role modelnya anak SMAKBO, kesuksesannya membuat ia terkadang harus pergi keluar negeri untuk bertugas. Beliau kerap disapa Pak MJ, alumni SMAKBO angkatan 25. Setelah lulus dari SMAKBO ia langsung bekerja di PT. Hengkel di  Cimanggis (Kini sudah dibeli oleh BASF) .

Pak MJ memaparkan ada 4 point yang harus diperhatikan apabila setelah lulus nanti kita memilih bekerja, yaitu: 1) Tingkat persaingan ketat; 2) Bekali dengan nilai tambah; 3) Pantaskan diri; 4) Harus melanjutkan kuliah.

Dalam dunia kerja pasti ada persaingan, bukan hanya bersaing dengan orang lain, kita juga harus siap jika harus bersaing dengan teman sendiri. Dalam beberapa kasus kita akan bersaing dengan orang yang lebih ahli, maka untuk dapat menang seseorang harus memiliki nilai tambah, baik itu softskill ataupun hardskill. Continue reading Pilihanku Adalah Jalan Kesuksesanku

Read More
image-title

Tak seperti sabtu pada umumnya dimana aku bersiap pagi-pagi untuk pergi ke pasar dan berbelanja keperluan memasak. Berharap semua tugas rumah segera selesai dan aku bisa pergi ke sekolah untuk sekedar mengikuti perkumpulan rutin ekstrakulikuler pecinta alam yang diadakan setiap Sabtu.

Kali ini aku bersiap pagi-pagi, tapi bukan untuk berbelanja. Melainkan untuk pergi ke Jakarta! Kota metropolitan yang terkenal akan kemacetan dan hiruk pikuk warganya. Kota yang sama yang disebut kota Batavia, tempat berkumpulnya sejarah dari masa lampau, sekaligus tempat dibangunnya masa depan yang kapan datangnya pun aku tak tau.

Salah satu transportasi yang menjadi pilihanku untuk pergi ke Jakarta adalah kereta listrik atau yang lebih dikenal dengan  istilah Commuter Line. Tak sesuai ekspektasiku, hari sabtu di Jakarta tak sepadat seperti yang kulihat di TV-TV.

Biasanya kereta menuju Jakarta sangat padat. Pundak-pundak orang bersentuhan aroma parfum dan keringat yang bercampur aduk, hingga anak-anak yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. Namun kali ini berbeda, walaupun ramai, tapi kereta yang kutumpangi tidak seramai biasanya.

Masih ada kursi kosong tersedia untuk kugunakan duduk dan memejamkan mata walau hanya sebentar. Disamping kiriku ada laki-laki yang mengenakan Headphone  sambil mendengarkan lagu grup musik Korea, black-pink dengan suara yang sangat kencang. Bahkan aku pun bisa mendengarnya.

Lain halnya dengan wanita yang berada di samping kananku, dia asyik bermain game Temple Run. Men-swipe jarinya ke kanan dan ke kiri , dan saat pemainnya masuk ke jurang dia terlihat sedikit terlonjak dan mengeluh “yaelah”.

Setelah perjalanan satu setengah jam di kereta, ditambah satu jam lagi untuk menunggu temanku yang lain datang. Akhirnya aku memulai perjalanan untuk berkeliling jakarta.

Jakarta terlihat seperti tempat berkumpulnya gedung tinggi. Gedung-gedung yang tingginya tak kurang dari sepuluh hingga tiga puluh lantai dapat kulihat di depan, belakang, dan kanan-kiriku. Beberapa bajaj terparkir dengan rapi di tepi jalan, membentuk barisan berwarna biru, orang didalamnya berteriak  “Yok museum gajah, Neng!”.

Ada juga delman yang keretanya sudah dihiasi dengan berbagai pernak-pernik berwarna hijau, merah, biru, bahkan kuning. Dengan kuda yang juga telah didandani dengan hiasan di kepala dan kakinya, semacam benang yang diikat menjadi berbentuk bel berwarna merah putih. Namun jumlah delman disini dapat dihitung dengan jari, mungkin hanya lima atau enam  yang aku lihat.

Di trotoar ada juga beberapa kursi yang disediakan untuk para pejalan kaki. Kursi-kursi berwarna putih dengan hiasan maskot Asean Games dibelakangnya. Tapi tidak ada orang yang mendudukinya, entah karena mereka sibuk, atau lokasi kursi yang kurang strategis karena tepat dibawah terik matahari.

Tiba di Museum Nasional RI

Setelah kurang lebih dua puluh menit di perjalanan, akhirnya aku sampai ke destinasi pertamaku; Museum Nasional RI. Entah mengapa aku baru sadar bahwa Museum Gajah yang dimaksud supir bajaj tadi adalah Museum Nasional, karena jika diperhatikan di bagian depan museum terdapat sebuah patung gajah dengan belalai dan perut gendutnya.

Bagian depan Museum ini didesain dengan gaya kolonial namun futuristik. Kesan kolonial terlihat dari bagunan yang didominasi dengan cat berwarna putih dengan pilar-pilar setinggi empat sampai lima meter. Dibagian ujung atas dan bawah pilar-pilar itu terdapat ukiran dengan bentuk yang beragam.

Ditambah lagi dengan model jendela dan pintu kayu yang dengan tinggi mencapai tiga kali orang dewasa semakin mempererat kesan kolonial dan mengingatkanku pada bangunan yang sering ditampilkan di film-film jaman dulu, rumah pejabat kompeni.

Sementara kesan futuristik disuguhkan di bagian kanan depan museum, dimana terdapat sebuah pajangan. Sebuah objek berbentuk setengah bola berwarna hitam dengan diameter kurang lebih lima meter. Di dalamnya dibuat seakan ada beberapa orang yang sedang terseret dalam  ombak, atau bahkan lebih seperti pusaran. Seorang anak bahkan berteriak “Ibu, aku mau liat blackhole”.

Masih dengan gaya kolonial yang elegan, bagian dalam museum juga didominasi dengan warna putih. Saat memasuki ruangan pertama dalam Museum, aku disuguhi pemandangan patung, arca, relief, hingga prasasti yang disusun dengan rapi. Di setiap display place-nya terdapat tulisan yang intinya;  dilarang menyentuh semua koleksi Museum. Continue reading Belajar dari Patung

Read More