Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/operations.class.php on line 2734

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/operations.class.php on line 2738

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/output.class.php on line 3679
sekolah Archives - Yayasan BAS

Korek api merupakan alat yang menjadi bagian dari kenanganku saat dulu hingga sekarang. Dahulu aku tidak takut dengan korek api, sampai suatu hari aku mencoba menyalakan api. Api yang nyala mengenai tanganku dan menyebabkan tanganku melepuh. Semenjak itu, aku tidak mau lagi bermain atau memegang korek api kayu.

Setelah sekian lama aku tidak menggunakan korek api kayu, sekarang aku diwajibkan untuk menggunakan korek kayu karena resmi menjadi murid SMAKBO. Hari pertama bersekolah, aku langsung belajar di Laboratorium Gravimetri. Laboratorium ini digunakan untuk analisis sampel berdasarkan bobot.

Aku yang baru pertama kali mendengar hal itu sama sekali tak terbayang apa yang akan dilakukan di dalam laboratorium ini. Aku akan belajar di sini sebanyak 3 kali dalam 1 minggu karena pembelajaran menggunakan sistem blok. Hari pertama pembelajaran, aku dan teman kelas bersiap di depan laboratorium. Waktu menunjukkan pukul 7 dan pintu laboratorium terbuka.

Kak Gea keluar dari dalam dan memberikan arahan kepada aku dan teman kelas.“Selamat pagi semua, sekarang kalian masuk lalu berdiri di meja tengah” ujar Kak Gea dengan nada tegas. Kami semua masuk dan berdiri rapih di meja tengah. Kemudian Kak Gea memulai pembelajaran dengan berdoa lalu membacakan aturan yang harus dilaksanakan di dalam laboratorium ini.

Kami mendengarkan seluruh aturan yang dibacakan oleh Kak Gea. Setelah selesai membacakan aturan, Kak Gea memberi waktu kepada kami untuk melihat apa saja yang ada di dalam laboratorium ini.

 “Kalian diberi waktu untuk melihat apa saja yang ada di dalam laboratorium ini. Kalian harus tetap kondusif, jangan berisik” ujar Kak Gea dan kami serentak menjawab “Baik kak”. Aku dan teman-teman langsung meyebar untuk melihat apa saja yang ada disitu. Aku mencatat beberapa informasi salah satunya adalah simbol-simbol bahaya yang tergantung di dinding. Hampir 20 menit kami berkeliling, terdengar suara Kak Gea yang menyuruh kami untuk kembali kumpul di meja tengah.

“Kalian sudah berkeliling di laboratorium ini. Kalian akan membuat laporan khusus pertama mengenai denah laboratorium dan jangan lupa besok kalian harus membawa korek api kayu” ujar Kak Gea. Mendengar hal itu, aku sedikit kaget karena mengingat pengalaman burukku dengan korek api kayu, tetapi aku harus tetap membawanya agar tidak terkena sanksi.

Keesokan harinya, aku datang pagi agar tidak terlambat kemudian bersiap-siap di depan loker coklat tempatku menaruh barang. Tak lupa aku keluarkan korek api kayu dari dalam tas dan aku simpan di dalam saku jas labku. Tepat jam 7 pagi, kami sekelas masuk ke dalam laboratorium, di depan meja tengah sudah ada Ibu Nina dan Kak Gea. Kami berdoa terlebih dahulu lalu Kak Gea membagi kami berpasangan, yang nantinya akan menjadi partner selama praktikum di sini.

Setelah pembagian partner selesai, selanjutnya adalah pembagian posisi meja kerja. Aku dan 3 temanku berada di meja 3 deret 2.  Aku langsung menuju meja 3 dan berdiri di depannya. Baru beberapa menit berdiri, Ibu Nina datang ke meja 3 kemudian memulai pembelajaran.

“Anak-anak, kalian hari ini akan belajar bagaimana cara menggunakan teklu dan mekker. Sekarang ambil teklu dan mekkernya di kardus bawah ruang asam ya” perintah Ibu Nina. Anggota meja 3  semuanya mengambil teklu dan mekker kemudian dipasang di meja kerja masing-masing.

Setelah dipasang, Ibu Nina menyuruh kami untuk mengeluarkan korek api kayu untuk menyalakannya. Mendengar itu, aku mulai takut dan gelisah karena aku tidak bisa menyalakan api dari korek api kayu.

“Ayo semuanya mulai nyalakan api di teklu ya, atur supaya apinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil” perintah Ibu Nina. Ketiga temanku sudah mulai menyalakan teklu, tetapi aku hanya terdiam dan panik karena tidak berani menggunakan korek api kayu. Melihat aku yang terdiam sambil sesekali tengok kanan kiri, Ibu Nina datang menghampiriku.

“Nana, kamu kenapa diam saja? Teman-teman yang lain sudah mulai menyalakan teklu” tanya Ibu Nina.

“Maaf bu, saya takut untuk menggunakan korek api ini karena dulu saya punya pengalaman buruk dengan korek api ” jawabku.

“Ayo kamu coba, harus sampai bisa” jawab Bu Nina.

Melihat itu, teman samping kananku yaitu Nisa menepuk pundakku dan memberikan semangat. Aku memberanikan untuk menyalakan api dari korek. Setiap api sudah tersulut aku terus mematikannya karena aku takut api akan mengenai tanganku dan membuat tanganku melepuh.

Karena terlalu lama, Ibu Nina memaggil lagi namaku dan berbicara “Nana, masih belum bisa juga? ibu akan tunggu kamu sampai bisa dan sampai magribpun akan ibu tunggu”. Mendengar hal itu, perasaanku semakin kacau, aku tak tau harus apa karena disatu sisi aku merasa takut tetapi di sisi lain aku tidak enak dengan Ibu Nina dan teman sederetku.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba lagi dan lagi. Sampai saat batang korek ke 8, aku baru bisa menyalakan apinya. Setelah berhasil, hatiku lega sekali rasanya.

“Itu kamu bisa, tidak terjadi apa-apa dengan tanganmu kan” ujar Bu Nina. Aku hanya tersenyum dan menjawab “Tidak Bu, tangan saya baik-baik saja”. Temanku Nisa menepuk pundakku dan berkata “Jangan takut lagi ya”, “Iya, terima kasih Nisa” kataku membalas ucapannya.

Kejadian ini membuat aku tidak takut lagi dengan korek api kayu, dan kalau kalian bertanya “Kamu sudah bisa nyalakan api dari korek api kayu?” aku dengan bangga akan menjawab “Ya, aku sudah bisa”. Aku tidak akan malu karena aku merasa bangga bisa melawan rasa takutku dan berhasil melewati salah satu ketakutan yang aku alami selama ini.

Korek api kayu sekarang tidak lagi menjadi kenangan yang buruk bagiku karena sekarang aku sudah bisa menggunakan korek api dengan baik. Sampai sekarang kejadian itu masih terbesit dipikiranku dan menjadi pengalaman pertama bersekolah di SMAKBO.

Penulis: Devina Angkawidjaja (SMAKBO Angkatan 63/ Beswan Generasi 6)

Read More

Assalamualaikum, Laboratorium Praktik Kimia Terpadu! Aku minta izin ya, ingin mendeskripsikan kamu. Kamu itu selalu jadi tempat yang penuh kejadian eksotis untukku. Kamu selalu bisa menciptakan kenangan setiap aku berinteraksi denganmu. Caramu bertemu denganku selalu bisa bikin hati aku dag-dig-dug. Kurang lebih seperti itu lah gambaran umumnya.

Laboratorium Praktik Kimia Terpadu atau aku biasa memanggilnya dengan sebutan lab PKT. Salah satu laboratorium kimia di sekolah kebanggaanku, yaitu SMK-SMAK Bogor dengan seragam putih krem ciri khasnya. Lab ini ditujukan kepada siswa kelas 12. Tidak perlu indikator ataupun pH universal, suasana asam (agak seru dan menegangkan) sangat mudah kita jumpai di sini.

Setiap rabu, adalah jadwal praktik lab PKT untuk kelasku, kelas 12-1. Sebelum memulai praktik, kita menyiapkan diri, seperti menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan sebagai pelindung dari tumpahan bahan kimia, barang-barang terjatuh, dan kemungkinan bahaya lainnya.

Selain itu, kita harus menyiapkan laporan khusus (lapsus) berupa laporan praktikum yang sudah dilakukan pada minggu sebelumnya dan laporan harian (laphar) berupa bagan kerja dan bagan data yang diperlukan untuk praktikum hari itu. Saat itu, kita masih tenang dan bercanda. Bahkan, masih sempat untuk saling mengejek nama  orang tua. Walaupun, setiap siswa sudah sadar bahwa itu merupakan hal yang tidak etis. Namun, hal itu sudah menjadi tuman bagi kaum putih krem.

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 6.45. Semua siswa sudah rapi dan siap untuk masuk laboratorium. Ternyata, tidak semudah itu. Untuk bisa ikut praktikum, kita harus bisa menjawab kuis dari personel lab terlebih dahulu. Kuis ini seputar penetapan yang akan kita kerjakan. Seandainya saat kuis kita tidak bisa menjawab atau jawaban kita salah, kita akan dikeluarkan dari laboratorium dan menunggu hingga dipanggil untuk kuis kembali. Sekiranya kita lancar saat kuis, baru diperbolehkan untuk melakukan praktikum.

Raut wajah yang awalnya ceria seketika menjadi panik, tegang, gelisah, sampai salah tingkah sangat terlihat pada setiap siswa dengan keunikannya masing-masing. Ada yang sibuk belajar, memutar pena, menyendiri di sudut laboratorium, jalan di tempat sambil berbicara dengan dirinya sendiri, dan masih banyak lagi.

Lab PKT ini memang terkenal memiliki personel dengan sebutan “guru killer”. Sangat tegas, disiplin, dan taat peraturan. Gaya bicara yang menusuk pun menjadi karakteristik personel lab PKT ini.

Di lab ini, semuanya dilakukan berkelompok. Mulai dari kuis, praktikum, sampai mengolah data. Sehingga, sangat dibutuhkan sebuah kekompakan dan manajemen waktu yang baik dari suatu kelompok agar bisa menyelesaikan praktikum tepat waktu.

Sebelum praktikum akan diawali dengan kuis tentang hal-hal yang akan kita lakukan saat praktikum. Dasar dan cara kerja praktikum tersebut juga menjadi salah satu materi kuis. Saat kuis semua raut wajah berubah menjadi pucat pasi. Raut wajah guru yang memberikan soal pun berubah bak singa lapar. Mata sinis tajam menatap mata salah satu dari kita. Mulut pedas tak terkalahkan seolah menusuk hati. Acap kali terdengar kalimat “Kalian ini manusia bodoh pernah belajar atau tidak, sih?”

Setelah bisa menjawab kuis, kita langsung menuju meja kerja dan melaksanakan praktikum. Namun, perasaan tegang masih tertata rapi di dalam hati. Tidak jarang ada guru yang menghampiri kita untuk bertanya kembali seputar penetapan kita. Jika tidak bisa menjawabnya pun kita akan dikeluarkan. Oleh karena itu, sebelum praktikum kita harus belajar sampai sangat memahami apa yang akan kita kerjakan.

Praktikum dimulai. Persis seperti salah satu acara ajang lomba memasak di sebuah stasiun tv swasta, yaitu Master Chef. Hanya saja, yang kita lakukan bukan memasak, melainkan analisis sebuah produk. Hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan, dilanjutkan dengan menimbang sampel, hingga mendapatkan kadar kandungan dari suatu zat yang akan dianalisis.

Suasana pasar pun dimulai. Berlomba-lomba untuk mencari alat-alat yang bagus dan nyaman dipakai. Menunggu antrean untuk menimbang sampel, mirip banget menunggu antrean sembako. Seringkali terdengar”ih, gue duluan yang ambil ini!”, “ih, gue udah ngantri dari tadi!”.Kesabaran dan kekompakan sangat teruji di sini. Saat itu, akan terlihat bagaimana sifat asli dari seseorang.

Dag-dig-dug? Ya, jelas. Personel lab PKT selalu mengawasi kita. Memang benar, sih. Jika tidak diawasi, masih cukup banyak siswa yang sering melakukan kesalahan. Karena hal itu, personel lab PKT sangat jeli mengawasi kita. Personel lab PKT yang berada jauh dari kita, bisa dibilang dari ujung ke ujung pun sanggup melihat apa yang kita kerjakan. Sepertinya matanya tersimpan di setiap sudut ruangan.

“Hey, Nak! Tidak seperti itu lah kau kerja!”, “Mau jadi apa kau ini? Hal sepele saja kau tak tau”, “Maskernya jangan lupa dipakai. Mau mati ya kau ini?”. Itulah sepenggal kalimat yang sering aku dengar di lab ini. Sangat menyakitkan, bukan? Wah, sebuah pertanyaan yang sudah pasti jawabannya, tentu iya. Tetapi, apa yang dikatakan mereka itu demi kebaikan kita. Jikalau mereka tidak tegas, kita pasti tidak akan mendengarkan apa yang mereka katakan. Namanya juga generasi milenial.

Cekcok atau miss communication di sebuah kelompok sudah bukan lagi hal yang awam. Tidak sedikit siswa yang menangis setelah keluar dari lab ini karena salah paham dengan kelompoknya ataupunterkena omel dari personel lab. Saat ini, aku tidak sedang menggunakan majas hiperbola, melainkan ini merupakan sebuah kenyataan, bukan buatan.

Pada suasana ini, setiap siswa akan lebih mengerti kondisi dan perasaannya satu sama lain. Di tempat inilah yang mengajarkanku bagaimana cara menghargai orang lain, tidak egois, dan selalu berusaha demi kemajuan sebuah kelompok bukan hanya mementingkan diri sendiri.

Di tempat ini juga mengingatkanku akan pepatah “manusia merupakan makhluk sosial”. Benar dan terbukti di sini. Aku tidak bisa mengerjakan itu semua dengan hanya mengandalkan diriku sendiri. Aku butuh bantuan dan kerja sama dari orang lain.

Bualan, sindiran, dan usikan dari personel lab yang sangat terkenal sangar ini selalu berhasil mengobarkan hatiku yang rapuh dan lembut ini. Sehingga membuat mentalku semakin terasah. Hal ini membuat aku lebih siap untuk terjun langsung ke dalam kehidupan yang penuh rintangan.

Sungguh, suasana yang sangat indah untuk dijadikan nostalgia di suatu hari nanti. Aku berharap dengan goresan ini akan melunturkan mentalku yang awalnya hanya berupa endapan akan menjadi kilauan berlian. Terima kasih kenangan rupawan nan tampan! Sampai Jumpa!

Penulis: Qotrunnada Linggar Pinanditi

Read More
image-title

Tema tematik kali ini ‘Kehidupan Pasca SMAKBO.’ Rizki, seorang Beswan berkata, Tematik ini penting karena beswan membutuhkan arahan dan bayangan bagaimana kehidupan setelah lulus dari SMAKBO.”

Pemateri pertama adalah Sarjono Budi Santoso. Beliau alumni dari SAKMA (sebelum berganti nama menjadi SMAKBO) angkatan 25. Setelah lulus dari SMAKBO, beliau langsung masuk ke dunia industri tanpa berkuliah terlebih dahulu.

Beliau berkata, “Alumni dari SAKMA tidak pernah kekurangan pekerjaan, karena kualitas lulusannya baik, dan juga kala itu ekonomi indonesia sedang sangat kuat. Sehingga tenaga analis kimia banyak dibutuhkan di dunia industri.”

Beliau juga memberikan saran bagi para beswan untuk mempelajari bahasa asing selain bahasa inggris, seperti bahasa Mandarin. Karena bila seseorang menguasai banyak bahasa, menjadi added value atau nilai tambah bagi dirinya.

Beliau berkata bahwa penguasaan bahasa itu penting karena tanpa kemampuan berbahasa, maka kita akan tertinggal. Terlebih di era sekarang ini, saat ekonomi indonesia sudah masuk ke era pasar bebas aktif yang mana banyak pengusaha dari luar negeri khususnya China yang mendominasi perekonomian di Asia. Sehingga untuk membangun relasi yang luas, maka kita harus mampu berkomunikasi, dan yang mendukung hal tersebut adalah kemampuan berbahasa.

Selain kemampuan berbahasa dan keterampilan dalam pekerjaan, beliau menekankan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki seseorang adalah soft skill. Dimana soft skill ini dapat berupa kemampuan dalam beradaptasi di lingkungan baru, kemampuan membawa diri, kemampuan berpikir kritis, dan lain-lain.

Karena tanpa hal-hal tersebut, sebaik apapun keterampilan seseorang, dia tidak akan bisa berkembang di lingkungannya dan tidak akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang terakhir, untuk mencapai kesuksesan, hal yang harus kita miliki adalah rahmat dari Tuhan YME, karena tanpa rahmat-Nya, apa yang kita usahakan akan sia-sia.

Memilih Kuliah

Pemateri kedua adalah Yusuf Noer Arifin. Ia alumni SMAKBO angkatan 59, dan merupakan bintang pelajar di angkatannya. Ia memaparkan tentang seberapa pentingnya kuliah dan kenapa lulusan SMAKBO harus berkuliah.

Dalam bangku perkuliahan, alumni SMAKBO akan mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan selama masih bersekolah. Dengan berkuliah, maka mereka bisa lebih mengembangkan soft skill (organisasi, kepanitiaan, dsb). Dan diberi ruang yang lebih luas untuk meng-explore bidang yang diminati.

Dalam dunia perkuliahan, terdapat beberapa aspek yang ditempa secara terus menerus, yaitu karakter, soft skill, ilmu, relasi, dan pengalaman. Berhasil atau tidaknya tempaan tersebut bergantung mahasiswa tsb, karena mereka diberikan ruang gerak yang lebih luas untuk membentuk dan mengatur dirinya sendiri.

Dengan bekal keterampilan dari SMAKBO, ditambah lagi dengan 5 aspek yang dikuasai di dunia perkuliahan, maka lulusan SMAKBO dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan berkembang sebelum masuk ke dunia industri.

Bekerja Sembari Kuliah

Pemateri ketiga adalah Fachrizka Mubianty. Ia alumni SMAKBO angkatan 51 yang setelah lulus dari SMAKBO melanjutkan pekerjaannya sebagai analis sekaligus berkuliah.

Ia mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapatkan seseorang yang bekerja dan mengambil kelas ekstensi di perkuliahan. Waktu menjadi lebih efisien dan lebih paham bagaimana caranya mengatur waktu serta membangun banyak relasi dalam waktu yang bersamaan.

Namun, bekerja sekaligus kuliah tidaklah mudah. Seseorang harus rela mengorbankan waktu istirahat di akhir minggu untuk bekerja dan menghabiskan hari-hari biasa untuk bekerja. Ditambah lagi dengan tugas kuliah yang juga cukup memberatkan, bukan tidak mungkin orang yang mau bekerja sambil kuliah mengalami stres karena pekerjaan dan tugas-tugasnya yang lain. Sehingga keduanya dapat terlalaikan. Maka, sebelum memilih jalan apa yang ingin dilakukan setelah lulus dari SMAKBO harus mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari kemampuan pribadi, kondisi kesehatan, dan lain lain.

Setelah sesi materi selesai beberapa beswan berkata “waduh, tambah goyah nih mau gimana setelah lulus.” Namun, beberapa yang lain merasa bahwa informasi yang disampaikan oleh pemateri justru memantapkan niatnya. Baik itu langsung bekerja, kuliah, ataupun bekerja sambil berkuliah.

oleh Aliefi Mutiara Syafitri (Angkatan 62, Beswan Generasi 5)

Read More
image-title

Umumnya, para pelajar memikirkan setelah lulus nanti apa yang akan mereka lakukan. Mereka menghadapi pilihan untuk lanjut kuliah/kerja/bekerja sambil kuliah. Setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangannya, pelajar harus siap menanggung risiko dari pilihan tersebut dan tentu harus bertanggung jawab dengan atas pilihannya.

Memilih Langsung Bekerja

Narasumber pertama adalah role modelnya anak SMAKBO, kesuksesannya membuat ia terkadang harus pergi keluar negeri untuk bertugas. Beliau kerap disapa Pak MJ, alumni SMAKBO angkatan 25. Setelah lulus dari SMAKBO ia langsung bekerja di PT. Hengkel di  Cimanggis (Kini sudah dibeli oleh BASF) .

Pak MJ memaparkan ada 4 point yang harus diperhatikan apabila setelah lulus nanti kita memilih bekerja, yaitu: 1) Tingkat persaingan ketat; 2) Bekali dengan nilai tambah; 3) Pantaskan diri; 4) Harus melanjutkan kuliah.

Dalam dunia kerja pasti ada persaingan, bukan hanya bersaing dengan orang lain, kita juga harus siap jika harus bersaing dengan teman sendiri. Dalam beberapa kasus kita akan bersaing dengan orang yang lebih ahli, maka untuk dapat menang seseorang harus memiliki nilai tambah, baik itu softskill ataupun hardskill. Continue reading Pilihanku Adalah Jalan Kesuksesanku

Read More

SMK – SMAK Bogor merupakan sekolah kejuruan yang berfokus pada bidang keahlian Kimia Analisis. Di sekolah ini banyak sekali laboratorium kimia baik laboratorium konvensional maupun laboratorium analisis instumen sebagai penunjang proses pembelajaran, salah satunya adalah Laboratorium Gravimetri

Laboratorium Gravimetri atau Laboratorium Kimia Dasar 1 merupakan laboratorium  paling dasar dan paling pertama yang dipelajari oleh siswa di sekolah ini, yaitu pada saat duduk di kelas 10. Lab ini merupakan salah satu lab konvensional sehingga barang-barang yang digunakan pun masih konvensional dan sederhana.

Setiap seminggu sekali siswa melakukan praktikum di laboratorium ini, oleh karena itu siswa harus pandai menyesuaikan diri di sekolah ini terutama di laboratorium ini,  karena di lab inilah jiwa seorang analis ditumbuhkan dan dikembangkan,  di tempat inilah siswa dibentuk kepribadian sebagai seorang analais yang nantinya akan terjun langsung di dunia perindustrian.

Berhubungan dengan hal tersebut, kami memiliki narasumber yaitu Guru Laboratorium Gravimetri, Bapak R. Rudi Hendrakusumah. Beliau sudah bekerja selama kurang lebih 30 tahun. Sejak awal mula bekerja beliau sudah ditempatkan di laboratorium ini, sehingga beliau mengetahui dengan jelas bagaimana sistem yang digunakan di laboratorium ini, dari segi aturan,  proses belajar mengajar,  dan segala kegiatan yang ada di laboratorium ini. Oleh karena itu beliau mengerti betul bagaimana caranya membentuk kepribadian siswa di laboratorium ini. Continue reading Gravimetri, Modal Gambaran Bekerja Di Laboratorium

Read More