Menimbang, melarutkan, mengendapkan, memijarkan dan menimbang lagi. Dari menimbang hingga ditimbang kembali. Gravimetri, mereka menyebutnya begitu. Sebuah kata yang asing bagi diriku yang baru memasuki dunia per-kimia-an. Gravimetri adalah salah satu laboratorium yang berada di almamaterku tercinta, SMAKBo dan ini akan menjadi laboratoriumku yang pertama.

**

Aku datang dengan penuh persiapan. Kubuka pintu kayu berwarna cokelat muda yang konon katanya lebih tua dari usiaku. Hempasan udara laboratorium itu menerpa diriku yang baru saja melangkahkan kaki kananku kedepan. Baunya khas, seperti bau arang yang dibakar ditambah dengan aura kedisiplinan yang tinggi serta semangat belajar yang membara. Tapi banyak yang mengatakan kalau semangat belajar itu akan hilang ketika kamu diberikan kuis oleh gurumu. Entahlah benar atau tidak, tetapi aku telah membuktikannya.

Aku berjalan menyusuri selasar yang terbentuk karena meja dan meja lainnya yang dipisahkan jarak. Kaki ini melangkah melewati meja yang penuh dengan botol-botol asing yang berisi bahan kimia. Orang bilang bahwa pereaksi itu semuanya encer tetapi, jangan salah, jika kamu salah menuangkan isinya, gegep akan melayang diatas kepalamu. Tepat di depanku, sebuah meja berlapiskan ubin. Mereka menyebutnya meja tengah karena memang letaknya yang berada di tengah-tengah ruangan. Meja tengah ini diatasnya ditaruh banyak sekali panci kaca, bukan, itu desikator. Katanya jika kamu memecahkan desikator itu, kamu tidak akan bisa makan atau jajan selama berbulan-bulan kedepan.

Tepat di depanku ada sebuah tembok putih penuh coretan reaksi pengendapan yang harus kutulis. Tunggu, tembok?? Disini seluruh tembok berwarna krem dan lagipula tembok putih ini penuh coretan. Aku penasaran, ketika kuhampiri dan kusentuh, ternyata itu adalah papan tulis.

Aku sudah selesai dengan meja tengah yang dingin itu. Kuambil langkah menuju sebuah meja di belakang. Cukup belok kiri dari depan papan tulis dan melewati satu meja aku akan sampai di mejaku. Meja 4 namanya dan aku mendapat barisan paling belakang yang langsung menghadap jam dinding, ruang asisten dan ruang timbang. Ya, aku dapat melihat siapakah gerangan yang akan datang untuk memberikan kuis atau sekedar melayangkan pertanyaan dan perhatiannya.

Lantas aku mendaratkan tangan ke meja itu. Meja yang terbuat dari kayu bercat hitam, permukaannya sungguh kasar dan sebagian ada yang bergelombang hingga berlubang. Kata guruku, itu karena cawan panas yang sembarangan ditaruh di atas meja tanpa memakai alas kasa asbes. Ya sudahlah, yang penting bukan aku yang melakukannya.

Lututku menendang sesuatu yang berada tepat di bawah meja. Seperti banyak pintu. Loker? Bukan, ini adalah rumah bagi aku dan istriku. Tunggu, istri? Ya, sebutan untuk partner lab. Beruntunglah kelasmu jika jumlah laki-laki dan perempuannya pas. Jika tidak, akan ada pasangan sejenis. Menjijikan? Tidak, karena hubungan kami hanya sebatas menjaga alat-alat laboratorium yang dititipkan oleh lab gravimetri ini sebagai penunjang pembelajaran kami, tidak lebih. Walaupun kadang banyak kejadian berawal dari partner lab kemudian berujung menjadi suami-istri yang sah dunia dan akhirat.

Tampaknya aku melupakan sesuatu. Rupanya terusi yang berada dalam tabung reaksiku merengek minta ditimbang. Akupun berjalan menuju ruang timbang. Tidak jauh, cukup berjalan lurus ke ujung ruangan di sana. Aku berdiri di depan ruangan timbang itu. Kutuliskan namaku di sebuah buku usang yang biasa disebut log book. Aku siap menimbang.

Kulangkahkan kaki kananku terlebih dahulu memasuki ruangan yang pintunya selalu dibuka, jadi aku tak perlu membuka pintunya lagi. Sebuah kemudahan dari sekian cobaan di lab ini. Aku dihadapkan dengan barisan neraca analitik klasik yang jika mereka adalah manusia, mereka pasti sudah beruban dan keriput. Kesabaranku diuji dengan neraca ini. Sungguh, ujian hidup yang benar-benar ujian.

Akupun berjalan kembali ke mejaku, mengurusi terusi yang manja ini agar dapat menjadi sisa pijar yang mantap. Larutkan, asamkan, endapkan, saring, per-arang, pijarkan, dinginkan lalu timbang. Akhirnya, selesai. Walaupun keluar-masuk lab karena tak bisa menjawab kuis, tetapi aku bangga bisa menyelesaikannya hari itu juga. Sebuah keajaiban yang hakiki di lab gravimetri ini.

**

Aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Sambil tersenyum sendiri mengingat kenangan-kenangan yang kurangkai di lab ini. Sudah hampir 20 tahun berlalu sejak aku, manusia bodoh yang tiada hari tanpa dicaci maki di lab gravimetri, mencoba untuk belajar tentang artinya ilmu, karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Tampaknya aku merindukanmu, gravimetri. Semua kebodohan, keberhasilan, kebanggaan juga guru-gurunya terutama beliau yang memanggilku dengan panggilan “anakku”. Semoga beliau tenang di sisi-Nya.

Aku, manusia bodoh yang 20 tahun lalu menginjakkan kaki di laboratorium ini kini kembali ke sini. Aku yang dulu masuk laboratorium ini dengan segala predikat remedial. Saat ini, aku melangkahkan kaki keluar dari laboratorium ini, beranjak pulang dengan predikatku sekarang sebagai penyandang gelar Ph.D dan cumlaude.

Oleh Daffa Ikhlasul Amal (Angkatan 61)

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

One thought on “Laboratorium Pertamaku “Gravimetri”