Di foto itu, Lily yang pakai kaus kuning, Piqi yang pakai batik jingga, dan Ayu yang pakai kaus hitam-kuncir kuda. Yang pakai kaus hitam sambil nyengir itu saya-yang sebenarnya lagi mikir keras gimana supaya kertasnya bisa jadi bebek.

Jujur saya pribadi adalah tipe orang yang-tanpa pikir panjang-bakal memilih tidur atau istirahat seharian di rumah sepanjang akhir pekan dibanding harus ikut kegiatan sosial. Bahkan kalau ada yang tanya kapan terakhir kali saya ikut kegiatan sosial, kayaknya saya cuma bisa nyengir. Dan saya dibuat kaget sama diri saya sendiri yang bisa-bisanya ngomong dalam hati “Ya Allah, kapan lagi ya bisa ketemu anak-anak ini lagi?” sepulang acara, sambil pijat-pijat bahu.

Ya, kegiatan beswan bulan ini, kami berkesempatan untuk bergabung dengan Organisasi Terminal Hujan dalam kegiatan ‘Ramadhan bersama Terminal Hujan’. Macam kegiatannya ada lomba mewarnai, lomba kaligrafi, Tausiyah, pembagian sembako, dan Bazaar pakaian layak pakai. Dan saya kebagian tugas menjaga balita yang orang tuanya sedang ikut Tausiyah.

Serius. Sebenarnya saya suka anak-anak, banget. Entah kenapa, berada di antara anak-anak-ajaibnya-bisa membuat mood saya naik, senaik-naiknya. Dan saya juga tahu, saya bukan tipe manusia ramah nan menyenangkan yang disenangi anak-anak-bikin nangis sih iya. Makanya, saat nama saya ada di dalam list PJ Playground-usia balita, saya kaget bukan main. Bingung tepatnya. Apa yang harus  saya lakukan supaya mereka senang atau setidaknya tidak menangis minta pulang selama 3 jam penuh? Membayangkannya saja saya ingin nangis.

Jujur, acaranya berlangsung hari Minggu dan saya ada jadwal uji kompetensi hari Seninnya. Sebagai murid yang baik, saya memilih belajar seharian hari Sabtu, yang intinya saya tidak menyiapkan apapun untuk bersenang-senang esoknya

Dan jadilah saya ‘teteh-teteh yang cuma bisa bengong’ waktu anak-anak datang dan langsung akrab dengan kakak-kakak dari TH-Terminal Hujan. Kagum dan iri bercampur. Coba bayangkan, anak-anak yang datang langsung menghambur ke pelukan mereka, peluk-peluk sambil bilang kangen, juga sibuk cerita seru soal ini itu. Tidak ada ikatan darah di sana, dan mereka bisa sedekat itu? Senyaman itu? Sebahagia itu?

Detik itu juga saya belajar cara ‘mencari perhatian’ dengan mengamati kakak-kakak TH. Mereka kreatif, sangat. Mulai dari mendongeng dengan boneka tangan, bernyanyi bersama, atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan sepele yang mengundang tawa anak-anak. Saya coba trik yang pertama, saya mengambil satu boneka tangan berbentuk jerapah. Dan satu anak dengan santainya berlari ke arah saya dan duduk di pangkuan saya. Tahap 1 berhasil.

Tadinya saya ingin memulai konversasi ringan, namun ternyata anak itu yang lebih dulu mulai. ” Kak! Pakein bonekanya ke tangan aku, dong!” sambil merebut boneka tangan itu dari tangan saya. Saya menurut saja sambil senyum. Polos. Mana saya tahu selanjutnya muka saya diserang sama jerapahnya. Ceritanya saya dimakan jerapah.

Ya, saya terjungkal ke belakang. Malu? Iya. Tapi saya tertawa saat itu.

“Kakak jadi sofa aku hari ini!” Bocah itu bilang lagi setelahnya, sambil terus bergerak di pangkuan saya, tidak mau diam sambil asyik bercerita soal jerapahnya. Saya perhatikan sekeliling saya. Oh, setiap pembimbing memegang satu anak di pangkuan mereka, dan kebetulan anak  yang saya pegang adalah tipe aktif. Saya lega, saya tidak harus berpikir soal topik pembicaraan berhubung anak ini hobi banget cerita.

Mengenal Lily

Jangan kaget, namanya Lily. Nama yang cocok untuk tipe anak kalem. Tapi Lily yang satu ini pengecualian.

Lily ini tipe anak yang lebih pilih menyerang semua boneka hewan dengan jerapah di tangannya dibandingkan harus mengikuti alur cerita kakak TH-sambil mengeluarkan suara-suara hewan-khas dongeng balita. Atau lebih pilih main tembak-tembakan dibanding membuat bebek kertas. Atau lebih pilih menyelesaikan puzzle dibandingkan harus main bola warna-warni. Ya, meskipun akhirnya ia tetap melakukan semua kegiatannya sambil manyun.

Kami banyak cerita, ngobrol berdua. Ternyata usia Lily ini bisa dibilang ‘tanggung’. Terlalu membosankan untuk ikut games dan dongeng ala balita, tapi umurnya belum cukup untuk ikut lomba mewarnai. Makanya, Lily tidak terlalu aktif mengikuti agenda kegiatan balita yang sudah disusun kakak TH, dan lebih memilih membuat acaranya sendiri dengan saya.

Cuma butuh setengah jam, dan kami sudah akrab. Cukup akrab untuk membuat Lily enggan melepas tangan saya saat anak-anak harus berbaris. Lily tetap menggenggam kuat tangan saya sambil bilang jangan pergi. Duh, mana tega saya. Meskipun akhirnya saya janji bakal jagain jerapah dia dan tidak pergi ke mana-mana. Barulah Lily mau berbaris dengan teman-temannya.

Saya yang tipikal biasa membuat anak orang nangis kejer dibuat terharu dengan permintaan Lily itu. Oh, hei? Saya berhasil hari ini?

Dan tibalah saat pulang. Yang anehnya perasaan saya bercampur. Lega, puas, sedih, senang, nano-nano homogen jadi satu. Saya iseng tanya ke Lily, “Kamu seneng banget enggak hari ini? Udah capek belum?”

Dan saya dibuat terbang seterbang-terbangnya waktu Lily jawab tanpa pikir panjang, “Udah capek, tapi seneeeng bangeeeettt!” Ya, Lily bilang capek tapi setelahnya tangannya membentuk pistol lagi dan mau tidak mau saya ikut lagi dalam permainan tembak-tembakannya.

Ada satu kalimat Lily yang membuat kami semua tertawa. Saat itu ia hendak mengejar ibunya, lalu ia menitipkan susu, bendera, bebek kertasnya kepada saya sambil teriak bilang, “Kak, titip, kayak biasa !” Saya tertawa saat itu juga, ‘kayak biasa’? Saya serasa Abang basreng langganan.

Ya, kami berdua sama-sama sudah terbiasa. Tiga jam yang ajaibnya mampu membiasakan kami satu sama lain. Awalnya saya sendiri heran, kenapa Lily mau-maunya menempel dengan Saya yang 101% membosankan.

Mungkin satu hal. Namanya juga anak-anak, ingin dipahami, ingin dimengerti, ingin dituruti, ingin diperhatikan. Fakta Lily yang punya banyak saudara ini membuat saya sedikit banyak paham tentang bagaimana senangnya Lily dapat perhatian penuh dari saya, bahkan sampai enggak rela kalau saya pergi.

“….Abisnya kakak baik.”

Duh, sedih saya waktu dia sudah banyak bicara soal ‘nanti kita ini itu ya kak..’ . Mana paham Lily kalau saya cuma bergabung satu hari.

Saya ingat wajahnya waktu bilang ‘dadah!’ sambil memegang tangan ibunya. Saya senang. Sangat. Sambil terus berdoa dalam hati  soal kemungkinan pertemuan kami lagi, soal kebahagiaan Lily, kesuksesan dan cita-citanya. Juga untuk semua anak-anak hebat yang saya temui. Yang mengajari saya banyak hal hari itu.

Pegal punggung saya hari itu. Tidak seperti biasanya di sekolah yang hanya berperan sebagai murid, hari itu saya merangkap peran. Sebagai murid-pembimbing-seorang kakak-seorang teman-dan sebuah sofa.

Sofa yang bahagia.

Penulis Nabila Putri (Angkatan 61)

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *