Masa Orientasi Siswa (MOS) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut murid baru. Nyatanya, kegiatan MOS di Indonesia dapat dibilang primitif. Kegiatan MOS di Indonesia identik dengan perpeloncoan, tindak kekerasan baik mental ataupun fisik, pemberian tugas yang tidak sewajarnya dan banyak lagi kegiatan yang sebenarnya tidak mendidik.

Kegiatan MOS di Indonesia kerap kali menimbulkan korban. Bahkan menyebabkan kematian. Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, dialami oleh almarhum Evan Christopher Situmorang (12). Siswa baru SMP Flora Bekasi itu tewas diduga karena kelelahan mengikuti MOS di sekolahnya.

MOS di Indonesia

Tindak kekerasan dalam kegiatan MOS merupakan hal yang sudah dianggap wajar di Indonesia dengan maksud mendisiplinkan murid baru. Tindak kekerasan yang kerap kali dilakukan adalah kekerasan mental seperti memarah-marahi, membentak, meneriaki, dan semua perkataan murid baru adalah salah. Biasanya, kegiatan MOS dilakukan oleh senior bahkan alumni. Para panitia MOS akan menganggap hal itu wajar dengan tujuan membentuk karakter siswa yang hormat dan sopan pada senior dan membentuk mental siswa yang kuat, berani, dan inisiatif.

Namun nyatanya hal tersebut bukan membentuk mental siswa yang kuat, berani, dan inisiatif melainkan membuat siswa patuh, terintimidasi, tunduk dan penakut. Siswa akan merasa tertekan dan takut untuk mengutarakan pikirannya karena setiap yang dia katakan adalah salah. Hal ini menjadi serius karena kedepannya jika siswa dihadapi suatu masalah yang serupa di kehidupan nyata, ia akan merasa takut. Bahkan dapat dikatakan siswa merasa trauma. Para senior pun cenderung merasa lebih berkuasa dan bahkan ada yang berniat balas dendam karena diperlakukan oleh angkatan sebelumnya.

Tindak kekerasan yang lainnya yaitu terkadang dengan memberikan sanksi fisik yang asal-asalan dan tidak ada tujuannya. Seperti, berdiri di tengah lapangan yang terik dalam waktu yang lama, push up, berlari mengelilingi lapangan dan lainnya. Hukuman ditujukan agar siswa lebih disiplin dan menjadi lebih baik. Namun, itu merupakan cara yang salah. Siswa memang akan menjadi lebih disiplin namun karena ia merasa takut terhadap panitia, sehingga ia akan patuh di depan panitia saja. Kerap kali kekerasan tersebut berujung pada kematian.

Aktivitas MOS Lainnya

Perpeloncoan pun kerap kali dilakukan. Para siswa diharuskan berpenampilan sesuai dengan yang diinstruksikan oleh panitia. Seperti mengenakan atribut yang aneh, memakai name tag yang dibuat secara rumit, foto siswa yang dicoret-coret untuk bahan tertawaan senior dan bahkan cenderung merendahkan harga diri siswa. Tindak perpeloncoan tersebut sangat tidak mengedukasi. Kegiatan tersebut hanya akan membawa dampak negatif dan menimbulkan potensi terjadinya bullying.

Pemberian tugas yang aneh dan terlalu banyak pun kerap terjadi. Siswa diharuskan membawa barang-barang yang diinstruksikan oleh panitia. Tidak masalah jika barang yang harus dibawa itu berguna bagi siswa, namun kadang barang-barang tersebut tak bermanfaat dan merupakan suatu pemborosan. Adapun pemberian tugas yang tidak wajar, seperti pembuatan laporan kegiatan yang terlalu banyak dan harus dikumpulkan keesokan harinya dengan tujuan agar siswa dapat beradaptasi dengan tugas-tugas sekolah yang banyak, namun nyatanya hal tersebut kerap dilakukan senior dengan maksud balas dendam agar siswa merasakan apa yang ia rasakan saat ia di-MOS sehingga memberikan tugas yang tidak sewajarnya yang bahkan tidak mencerminkan kegiatan belajar yang sesungguhnya.

MOS di Negara Lain

Di negara-negara maju ada pula kegiatan sejenis ini, namun sangat berbeda dengan di Indonesia. Siswa-siswa baru dipersilahkan memperkenalkan diri dengan baik, menunjukkan kelebihan-kelebihan mereka, berdiskusi mengenai pendapat-pendapat mereka mengenai ilmu pengetahuan yang ilmiah. Ada juga kegiatan fisik seperti di Singapura, tanpa memakai atribut yang aneh-aneh, tugas mereka adalah setiap hari satu anak harus membuat 30 orang bahagia. Judul tugasnya adalah Kindness Campaign. Mereka keliling Singapura untuk membantu bersih-bersih stasiun, terminal dan toilet umum. Mereka juga membantu para pekerja yang sudah manula.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan-kegiatan MOS yang tidak mendidik dan tidak membangun tidaklah perlu dilakukan. Seharusnya dibuatlah suatu program yang memberikan dampak positif pada siswa seperti, seminar motivasi, game edukasi, kegiatan bertukar pikiran atau diskusi yang bermanfaat, melakukan kegiatan amal dan lainnya yang jauh dari tindak kekerasan.

Oleh Citra Apriliana (Angkatan 61)

 

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

One thought on “Masa Orientasi Siswa, Perlukah?