image-title

SMAKBo merupakan sekolah yang sudah berumur, tetapi hingga saat ini SMAKBo masih dan bahkan semakin populer. Ibarat manusia, mungkin sekolah ini sudah dikatakan renta. Banyak cerita yang belum kita ketahui tentang sekolah ini, mungkin juga siswa/i SMAKBo sendiri belum mengetahui bagaimana cerita mengenai SMAKBo zaman dahulu.

Maka, untuk lebih mengenal SMAKBo terutama pada era dahulu, kami melakukan wawancara kepada dua orang guru alumnus SMAKBo, yaitu:
1. Nina Marliana, (guru senior/alumni 1975, X)
2. Drs. H.E. Krisnandi Ismail, B.Sc (guru senior/alumni 1965, Y)
Berikut petikan wawancara,

Bagaimana cerita SMAKBo yang dahulu tempat kursus menjadi sekolah formal?
X: Untuk yang ini saya memang kurang mengetahuinya, karena saat saya mulai bersekolah di SMAKBo, SMAKBo sudah menjadi sekolah formal. Namun, SMAKBo ini memang bagian dari Balai Penelitian Kimia bidang pendidikan (sekarang BBIA).
Jadi, dalam BBIA itu terdapat beberapa bagian, dan salah satunya adalah pendidikan. Di bidang inilah tenaga kerja di BBIA dibimbing khusus untuk mendapatkan ilmu tambahan di bidang analis. Dikarenakan banyaknya peminat, dijadikanlah sekolah. Pada saat itu adalah masa Bapak Ahmad Chon. Kursus hanya 2 tahun teori dan 2 tahun PKL (Praktik Kerja Lapangan).
Y: Kursus kimia itu digunakan untuk para analis di BPK (sekarang BBIA) di bidang pendidikan. Ketika sekitar tahun 1960 berubah menjadi SAKMA pada zaman bapak Ahmad Chon karena memang banyak sekali peminatnya. Dahulu sistem pembelajarannya 2 tahun teori dan praktik, kemudian 2 tahun lagi PKL (Praktik Kerja Lapangan). Untuk 2 tahun teori dan praktik ini disebut dengan analis 1.

Apakah ada perbedaan dari segi pembelajaran di Laboratorium? Lalu, bagaimana perkembangan Laboratorium Instrumen?
X: Jika pembelajaran jelas berbeda, karena menyesuaikan dengan kurikulum. Seperti sekarang yang lebih banyak teori, kalau dahulu lebih banyak praktik. Karena sekarang ini SMAKBo mengikuti Dinas. Dahulu juga ada laboratorium meniup kaca, sekarang dihilangkan karena analis sekarang itu bukan analis yang harus membuat alat, tetapi siap memakai alat.
Juga pihak sekolah pun melihat kebutuhan industri di luar sekolah tentang butuh tidaknya profesi seperti itu di luar. Dan untuk alat instrumen, di zaman saya memang sudah ada. Namun, tak secanggih sekarang. Lambat laun mulai berkembang karena kurikulum yang mulai berkembang. Saat itu hanya ada alat instrumen seperti spektronik 20. Dan yang dipelajari pun hanya mengenai single beam dan double beam. Untuk polarimeter juga sudah ada.
Y: Ya, dahulu itu laboratorium hanya ada gravimetri, titrimetri, analisis jenis, dan mikrobiologi. Karena memang dilihat dari kebutuhan di industri juga. Saya adalah angkatan kedua saat SAK berubah menjadi sekolah. Dan saat itu kurikulumnya masih kacau, karena baru berubah dari kursus analis menjadi sekolah. Dan tidak ada laboratorium instrumen karena memang tidak mampu ilmunya.
Lalu, saat saya menjadi bawahan kepala sekolah. Saya mengusulkan kurikulum baru di PusBangKur (Pusat Pengembangan Kurikulum), karena memang instrumen itu perlu dan selalu berkembang. Saat itu saya menaikkan SPP karena ingin membeli alat instrumen. Saya menyampaikan kepada orang tua siswa, dan ternyata mereka setuju. Sekitar tahun 1971 alat instrumen pertama datang, bernama spekto kolman.

Dahulu ada mata pelajaran bahasa jepang? Mengapa sekarang dihilangkan?
X: Saat zaman Ibu, bukan bahasa jepang, tetapi bahasa Jerman. Baru – baru ini memang bahasa Jepang. Itu kembali lagi ke hal sebelumnya, yaitu melihat keadaan luar di bidang industri itu sendiri.
Y: Saat angkatan saya bukan bahasa jepang, tetapi bahasa jerman. Karena saat itu tidak ada buku yang membahas mengenai kimia dalam bahasa indonesia. Dan bahasa jepang itu ada karena mengikuti aturan Diknas. Kemudian dihilangkan karena pihak SMAKBo sendiri kurang setuju dengan adanya mata pelajaran tersebut akibat menambah beban siswa, selain itu juga kurang terserap dan terpakai di dunia industri.

Dahulu juga tidak ada UN ya, lalu bagaimana bisa ikut UN?
X: –
Y: Iya, dahulu memang SMAKBo tidak memiliki NEM (Nilai EBTA Murni) karena memang NEM itu untuk apa? Masuk PTN saja, NEM tidak dipakai. SMAKBo juga tetap percaya diri. Tetapi tiba-tiba ada undang-undang yang menyatakan kalau semua sekolah harus ikut UN. Ya sudah, mau tidak mau. Oh iya, sebelum ada printer yang menulis ijazah itu Bapak Ino, karena tulisan beliau itu bagus sekali.

Apa benar yang menjabat sebagai kepala sekolah di SMAKBo harus alumni? Karena jika dilihat, kepala sekolah SMAKBo itu selalu alumni.
X: Tidak juga. Jika seperti itu mungkin dikarenakan alumni lebih tahu “dapur” nya seperti apa. Tetapi kebetulan saja, dari awal itu tidak pernah ada orang luar yang berhasil menduduki jabatan sebagai kepala sekolah di SMAKBo.
Y: Tidak harus, tetapi memang kebetulan semua yang pernah menjabat adalah alumni. Itu karena alumni SMAKBo memang lebih tahu bagaimana dan seperti apa keadaan di SMAKBo itu sendiri. Tetapi sebenarnya tidak harus alumni, pernah ada juga wakil kepala sekolah dari selain alumni SMAKBo, yaitu Bapak Ahma Yulius Usman.

Informasi dari buku, dahulu SMAKBo memiliki mobil yang bernama moris? Bagaimana dengan pemanfaatannya?
X: Memang ada, mobil moris ada saat masih SAK-SAKMA. Bentuknya seperti roti tawar. Itu adalah mobil dinas kepala sekolah. Kalau mobil itu tidak dipakai, terkadang juga dipakai siswa/i untuk bepergian, seperti pergi bertanding.
Y: Iya memang benar. Mobil itu ada saat SMAKBo masih SAK-SAKMA. Mobil itu mirip roti tawar dan merupakan mobil dinas kepala sekolah SMAKBo. Pemanfaatannya sama sebagaimana mobil dinas digunakan.

Awal mula terbentuk nama bentak ‘benteng takeshi’?
X: Sebenarnya tidak ada julukan apapun dari sekolah. Itu hanyalah kreativitas dari siswa/i SMAKBo saja. Dahulu SMAKBo hanya satu lantai, saat dibuat menjadi dua lantai mirip seperti benteng dengan dua tangga yang berhadapan dan kebetulan mirip benteng takeshi yang sedang ramai di televisi. Alhasil, siswa/i sampai sekarang memanggilnya ‘benteng takeshi’ atau bentak. Semakin populer juga karena menjadi tempat ditempelnya nama-nama siswa remed.
Y: Nama benteng takeshi itu adalah buatan siswa/i SMAKBo. Tepatnya saat angkatan Bapak Sofyan Sauri. Angkatan mereka memang kreatif. Kebetulan tempat itu memiliki tangga dan lantai 2 mirip dengan benteng yang sedang ramai di televisi, yaitu benteng takeshi. Jadilah tempat itu populer dengan nama ‘benteng takeshi’ atau bentak.

Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi terbentuknya nama angkatan?
X: Untuk waktu pastinya saya tidak tahu. Tetapi angkatan senior membuat nama angkatan karena tidak mau kalah dengan adik kelas yang ternyata mempunyai nama untuk angkatannya.
Y: Hal ini juga muncul saat angkatan Bapak Sofyan Sauri. Saat itu, saya ingat sekali. Yang menjabat sebagai ketua PP adalah perempuan keturunan Pakistan bernama Anis Mubarik. Dia bersama teman-temannya yang lain mencetuskan adanya nama angkatan, sehingga terbentuklah nama angkatan.

Seperti yang telah dipaparkan, ternyata istilah-istilah yang ada di SMAKBo ini adalah kreativitas siswa/i. Lalu ada istilah apa lagi ya?
X: Kalau sekarang kan hari Sabtu libur ya. Dulu sekolah full sampai Sabtu. Tetapi jam pulang masih sama yaitu sore hari. Pada sore hari itu biasanya anak-anak mengajak ‘eh ayo kumpul di DPR’ yang artinya di bawah pohon rindang. Lalu dilanjut KRIDA yang tak lain adalah ekskul.
Y: –

Bisa diceritakan salah satu tingkah laku murid SMAKBo dulu saat masih di Djuanda, apalagi dekat dengan Kebun Raya Bogor?
X: –
Y: Nah, dulu itu ada pintu yang bisa menembus KRB dari SMAKBo, jadi ya anak-anak suka sekali masuk KRB gratis.

Mengapa SMAKBo berpindah tempat dari di Jalan Djuanda menjadi di Jalan Binamarga?
X: Karena membludaknya peminat, disana tidak mungkin dikembangkan lagi sebab tempat yang tidak memungkinkan. Selain itu, tempatnya juga milik BBIA, akhirnya SMAKBo mencari tempat lain. Dan ditemukan di Ciheuleut tepatnya di Jalan Binamarga.
Y: Sama seperti hal yang pertama, karena terlalu banyaknya peminat. Dan di Jl. Djuanda itu sudah tidak dapat diperbesar lagi. Dan jadilah pindah tempat. Dan kebetulan mendapatkannya di Ciheuleut (Jl. Binamarga) ini.

Lalu bagaimana cerita awal-awal saat SMAKBo pindah ke Binamarga?
X: Ya isu-isu biasa seperti sekolah lain yang katanya tanahnya bekas kuburan. Jadi murid-murid sedikit takut.
Y: –

Menurut Bapak/ Ibu, benar atau tidak ada kutukan Herman Busser jika anak SMAKBo akan berjodoh dengan anak SMAKBo? Bagaimana ceritanya?
X: Itu tidak benar, karena semua itu sudah diatur oleh Allah swt. dan sudah ada di lauhul mahfudznya. Isu-isu seperti itu ada, mungkin karena anak-anak SMAKBo yang kurang bergaul, seharian belajar. Setiap hari bertemu dengan orang yang sama, dan timbul rasa suka. Saya juga bertemu dengan alm. Bapak Ino saat saya masuk SAKMA. Beliau sudah menjadi guru dan saya murid. Dan dekat dengan beliau pun ketika saya sudah hampir lulus, karena saat masih sekolah di kelas banyak teman sebaya, jadi saya merasa malu.
Y: Sebenarnya itu tidak benar, karena Herman Busser sendiri adalah seorang yahudi yang lajang atau tak mempunyai istri. Semasa hidupnya dia tidak pernah menikah. Yang seperti itu muncul mungkin karena kurangnya gaul siswa/i SMAKBo. Seperti pepatah jawa “witing tresno jalaran soko kulino” atau cinta terjadi karena kebiasaan. Ya bayangkan saja, satu loker berdua, kerja bersebelahan. Timbullah rasa suka. Tetapi itu bukan karena kutukan. Itu juga sudah jodoh pastinya. Kalau Ibu Nina memang iya dengan Pak Ino karena Bapak yang menjodohkannya. Karena kebetulan ibunya Ibu Nina itu percaya kalau Bapak yang mengenalkannya.

Apa pandangan Bapak/Ibu mengenai SMAKBo saat ini?
X: Pandangan saya mengenai SMAKBo saat ini, semakin diacungi jempol. Disiplinnya lebih baik dibandingkan sekolah lain. Kalau masalah anak – anak nakal, bukan hanya sekarang. Dulu pun ada. Tetapi mungkin kenakalan anak remaja sekarang ini akibat terlalu difasilitasi dengan berlebihan.
Y: Pandangan saya untuk SMAKBo saat ini tetap bagus. Apalagi sekarang telah berhasil bekerjasama di internasional seperti Belanda. Tak heran juga jika ada orang yang mengagumi SMAKBo.

Oleh Mariyatul Qibtiyah dan Noer Luthfianeu Edsyah (Beswan Gen 4/Angkatan 61)

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *