Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/operations.class.php on line 2734

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/operations.class.php on line 2738

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/yayasa11/public_html/wp-content/plugins/revolution_slider/includes/output.class.php on line 3679
Problematika Si Sulung - Yayasan BAS

Dulu Saya suka pamer ke Adik-adik saya, karena Saya merasa lebih beruntung dari mereka. Waktu itu Saya bilang ke adik saya yang pertama,

“Kita beda dua tahun kan? Berarti Aku udah punya bonus hidup lebih lama 2 tahun sama ayah ibu daripada Kamu!”

Sambil ketawa bari ngalēos, lalu adik saya manyun sambil-mungkin- diam-diam membenarkan kalimat saya.

Sebenarnya itu cuma usaha saya menghibur diri, karena saya tahu persis beban anak sulung di pundak saya sebesar apa, dan saya sendiri takut. Takut tidak mampu mempertanggung jawabkan predikat si Sulung itu.

Saya anak pertama, dan punya dua adik yang sedang labil-labilnya. Yang satu mau masuk SMA, yang satu mau masuk SMP tahun ini. Dan kelabilan mereka ini entah bagaimana jadi salah satu tanggung jawab saya, padahal mereka mana peduli waktu dulu saya masih labil-labilnya.

Bukan cuma soal pendidikan di sekolah, ini tentang lingkungan mereka di sekolah, di luar rumah, dan sikap yang mereka bawa pulang ke rumah, yang kadang aneh-aneh.

Yang satu, susah banget dimintain tolong dan cenderung individualis, cuma mau nyuci piring bekas makan dia sendiri, nyuci baju dia sendiri, urusan kamar, makan, yang penting ‘dia sendiri sudah’. Terlepas saya kagum dengan sikap mandirinya yang sudah tinggal jauh dari orangtua di umur semuda itu, tetap di mata saya ada yang salah. Apa dia juga begitu sama teman-temannya di sekolah? Setidakpeduli itu dengan teman-temannya?

Yang terakhir, saya enggak tinggal serumah dan cuma bisa saya pantau kalau liburan. Yang satu ini susah banget disuruh sholat ke Masjid. Dia laki-laki dan kalau maghrib saya suka lihat teman-teman sebayanya ramai pergi ke Masjid bareng-bareng. Alasannya banyak, dan kalau dibilangin malah saya yang dibentak balik. Lagi, ada yang salah.

Sejak liburan akhir tahun lalu, saya mikir keras, apa yang bisa saya lakukan? Memang saya tidak sesempurna itu, tapi saya juga tidak mau adik saya nantinya jadi orang yang individualis atau keras kepala.

Yang ada di kepala saya hanya apa yang bisa saya lakukan supaya mereka berubah, supaya mereka tidak begini begitu, supaya mereka jadi adik yang sempurna di mata saya.

Sampai saya ditampar Kak Ingki empat hari lalu lewat kalimatnya.

Jurnalis Kompas itu kurang lebih bilang, Keinginan untuk mengubah orang lain menjadi sempurna menurut versimu, itu namanya egois. Kamu sendiri bagaimana? Sudah melakukan yang terbaik belum?

Dan Saya jadi batu meringis lagi.

Waktu itu saya bengong, sambil membenarkan kalimat Kang Ingki, juga ingat dosa-dosa saya ke adik saya.

Pertama, bisa jadi, saya sendiri yang berperan dalam pembentukan sifat individualis pada diri adik saya. Saya yang kurang komunikatif, dan cenderung sibuk juga dengan Lapsus dan tugas-tugas sekolah saya. Kalau diingat-ingat, saya juga jarang punya kesempatan buat ngobrol santai-tentang novel, kuliner Bogor, atau film Dilan yang sedang ramai sekarang- sama adik saya yang satu ini. Padahal kita sekamar dan sama-sama perempuan yang harusnya secara naluriah senang gosip.

Kedua, untuk adik saya yang terakhir, saya jadi merefleksikan diri saya sendiri, lalu meringis juga. Saya ngomel-ngomel nyuruh adik saya ke masjid, giliran saya sendiri masih suka meng-ntar-ntar-kan sholat. Kalau dipikir-pikir, ini malu-maluin banget. Untung saja dia tidak membalikkan kalimat saya.

Kalau ditelaah lagi, mereka melaksanakan peran seorang adik dengan sempurna. Sering kan orang bilang, “Dik, lihat tuh kakakmu, begini begitu blablabla.. kamu juga contoh kakakmu dong!”

Entah siapa yang mengharuskan, tapi seorang adik suka dituntut untuk mencontoh kakaknya.

Sayangnya, si kakak sulung yang satu ini lupa untuk melakukan yang terbaik yang bisa seorang kakak lakukan.

Menjadi figur contoh yang baik buat adik-adik yang mengekorinya.

Saya seorang kakak Sulung, dan mungkin kalian juga salah satunya. Hanya ingin mengingatkan karena Saya juga butuh diingatkan, jadi kalian bisa ingatkan Saya kalau Saya mulai lupa.

Lupa tentang kita, si Sulung, yang sejatinya juga seorang pemimpin. Pemimpin skala kecil. Pemimpin adik-adik kita.

Semangat, Kakak!

Oleh Nabila Putri Wisnu P (Angkatan 61)

yayasanbas

yayasanbas has blogged 610 posts

One thought on “Problematika Si Sulung