Exemple

Tematik ke-1 2019, Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional

Sabtu, 26 Januari 2019, 20 penerima manfaat Beasiswa BAS mengikuti Tematik bertema Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional. Ada 2 fasilitator, Juang Akbar Magenda bercerita tentang Kepemimpinan, dilanjutkan dengan Puji Maharani membahas tentang pentingnya Komunikasi yang Efektif. Benang merah dari tema ini seperti yang dikatakan Puji, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik”.

Sebagai konfirmasi pemahaman Beswan, setiap Beswan membuat satu tulisan utuh seputar topik kepemimpinan dan kepemimpinan profesional. Berikut tulisan berjudul Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin oleh M Raafi Adhasyah dan Angan-Angan Si Pemalu oleh Nurul Bunga Kurnia, selamat membaca.

Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin

M Raafi Adhasyah

Seorang pemimpin harus mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah komunikasi. Dengan komunikasi efektif, pemimpin dapat mengajak, mengarahkan, dan menggerakan anggota untuk mencapai kepentingan bersama. Semua orang pasti mempunyai sikap kepemimpinan masing-masing, namun tidak semua orang berbakat atau bisa menjadi pemimpin, maka dari itu diperlukan pelatihan/seminar kepemimpinan seperti yang dilakukan Yayasan BAS untuk Beswan Gen 5 pada hari Sabtu, 26 Januari 2019.

Pemimpin tidak boleh hanya mementingkan jabatan. Memang benar, semua orang yang punya jabatan tinggi  umumnya punya sikap kepemimpinan yang bagus. Tetapi, saat melakukan pekerjaan, pemimpin harus bersikap selayaknya dan harus fokus pada tujuan. Harapkanlah kesuksesan bersama, anggaplah sebuah jabatan sebagai hadiah atas keberhasilan bersama.

Pemimpin pun harus mengesampingkan egonya. Memang puas rasanya untuk memaksakan ego. Namun, apa anggota yang lain juga puas? Karena itu pemimpin harus bisa memahami, mengetahui kemampuan, dan mengenal anggotanya, dengan begitu pemimpin dapat mewujudkan keberhasilan dan tentu anggota juga akan merasa puas dengan kinerjanya masing-masing. Untuk mewujudkan ini pemimpin harus melakukan berbagai macam pendekatan dan berkomunikasi dengan anggota. Pemimpin dapat dikatakan benar-benar menjadi seorang pemimpin apabila dapat merangkul anggotanya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya pemimpin harus dapat berkomunikasi efektif. Tidak semua orang bisa melakukan hal ini, tapi bagi orang yang bisa melakukan ini maka dapat dikatakan dia berbakat sebagai pemimpin. Puji Maharani berkata cara untuk komunikasi efektif adalah dengan memberlakukan 3C yaitu CLEAR (jelas) – CONCISE (ringkas) – COMPLETE (lengkap). Dara kelahiran Surabaya yang tumbuh besar di Bandung ini menanyakan kepada seluruh Beswan Gen 5,

“Apa itu komunikasi? Coba Anda jelaskan dengan satu kata!”

Seluruh Beswan menjawab pertanyaan tersebut dan diperoleh 20 kata yang menggambarkan apa itu komunikasi. Berdasarkan jawaban, Penulis simpulkan komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan sehari-hari berupa percakapan/ interaksi 2 orang atau lebih dengan berbicara, bertukar pikiran, dan berbagi informasi kepada lawan bicara.

Jika dahulu Ketua Umum  PSSI berkata apabila wartawan baik maka timnasnya baik, pada Tematik 1 ini Puji Maharani berkata apabila komunikasinya baik maka pemimpinnya juga baik. Dua pernyataan itu memang beda konteks/maknanya. Penulis sangat setuju pernyataan dari Pemateri Tematik 1. Menurut penulis pernyataan pertama tidak mencerminkan sikap pemimpin, pemimpin tidak boleh menyalahkan orang lain apalagi hal itu karena kegagalannya sendiri, Pemimpin harus bekerja sama dengan berbagai macam divisi  untuk mewujudkan tujuannya.

Kalau kata orang sunda, komunikasi teh lain ngalor ngidul hungkul, artinya komunikasi bukan sekedar berbicara. Seseorang dapat dikatakan mahir dalam berkomunikasi apabila ia memiliki sifat sifat seperti; percaya diri, empati, dapat memahami lawan bicara, berpikiran terbuka, dapat menyederhanakan yang rumit, konsisten dan mudah didekati. Apabila seseorang dapat menguasai hal tersebut, maka dapat dikatakan ia mahir  dalam berkomunikasi dan tentu berbakat menjadi  seorang pemimpin.

Suatu hari penulis pernah satu tim dengan ketua yang hanya diam saja, dia dipilih karena termasuk orang yang paling pintar di tim tersebut. Pada saat briefing, sang ketua hanya diam saja dan terlihat bingung mau berbicara apa kepada rekan satu timnya. Setelah itu temannya mengambil alih untuk berbicara dan membagi tugas, dan pada saat melaksanakan tugas pun terlihat sekali perbedaan skill kepemimpinan ketua dan temannya itu. Ketua hanya fokus dengan tugasnya sedangkan temannya melaksanakan tugasnya dan membantu atau memberikan pengarahan juga kepada rekan yang lain, sehingga kami semua merasa senang dengan dia dan sempat berpikir, “Harusnya dia yang jadi ketua”.

Cerita tersebut menunjukan bahwa komunikasi adalah skill yang harus dimiliki pemimpin. Pemimpin bukan hanya dilihat dari jabatannya ataupun prestasinya tapi dilihat dari apakah orang itu bisa mempengaruhi suatu organisasi atau tidak, dimana aktivitas dan ucapannya selalu diterima oleh rekannya, dan selalu memikirkan bagaimana cara mewujudkan kepentingan bersama.

 

Angan Angan si Pemalu

Nurul Bunga Kurnia

Kalau saat ini saya bilang saya itu pemalu, bisa dipastikan teman-teman saya akan langsung mencibir, bilang  jika itu hanya  hoax  semata. Tapi beda lagi jika yang mendengar itu teman SD saya, mereka mungkin akan langsung mengangguk setuju.

Percaya atau tidak, dari kecil saya itu pemalu, mungkin memang senang untuk dipuji dan dilihat banyak orang. Tetapi disatu sisi, saya sering sekali merasa canggung. Baik itu saat menyapa teman sekelas, tetangga saya, atau mengobrol dengan orang-orang yang saya anggap tidak terlalu dekat dengan saya. Sampai saat di kelaspun, ketika  guru mengajukan pertanyaan yang saya sudah tau jawabannya, saya sering sekali tidak percaya diri untuk menjawab.

Namun, saat SMP entah dorongan dari mana, saya mulai  mengikuti OSIS atau Organisasi Siswa Intra Sekolah. Disitu saya kenal istilah “pemimpin”. Yang saya tau saat  itu sih, pemimpin adalah seseorang yang bisa memimpin banyak orang.

Bagai cinta pada pandangan pertama, saya langsung suka dengan apapun yang berhubungan dengan “pemimpin”. Bahkan, saat SMP saya bercita-cita menjadi presiden, sebab bisa menjadi pemimpin nomor satu di negeri ini. Alasannya  sepele, saya ingin menghilangkan sifat pemalu yang saya punya dan menjadi lebih percaya diri.

Lambat laun saya mempunyai  banyak teman. Saya pun mulai  merasa lebih percaya diri dan sifat pemalu saya sedikit berkurang. Saya sudah bisa menyapa dulan kepada teman saya, atau mulai berani menjadi ketua kelompok saat di kelas walaupun itu harus dipaksa  dulu oleh teman saya.

Saat masuk SMK, saya tetap mengikuti OSIS, saya juga makin percaya kalau sifat pemalu saya sudah hilang. Saya jadi yakin, kalau memang saya ini terlahir sebagai pemimpin yang hebat. Saking percaya dirinya, karena bisa masuk OSIS saat kelas 10, saya kira saya bisa menjadi ketua OSIS saat kelas 11 nanti.

Tetapi kenyataannya, saya bukanlah ketua OSIS. Bahkan, kandidatnya pun tidak. Padahal saya sudah cukup percaya diri, bisa berbicara di depan orang banyak, dan juga mempunyai pengalaman yang cukup dalam berorganisasi. Sebenarnya saya bisa untuk mengajukan diri, tapi entah kenapa, saat ditanya mau menjadi calon ketua OSIS atau tidak, saya hanya tersenyum dan menggeleng.

Lalu kenapa saya tidak mencalonkan diri sebagai ketua OSIS?

Alasannya adalah saya merasa teman-teman atau kakak kelas saya masih belum percaya pada saya. Mereka memang tidak menyampaikannya secara langsung, tapi saya cukup peka untuk itu. Banyak teman saya yang menujuk saya sebagai ketua kelompok, karena ingin diskusi cepat selesai saja. Dan mungkin saat kelas 10, saya bisa menjadi Pengurus OSIS karena relasi saja.

Sedihnya, saya sudah terlanjur suka untuk menjadi pemimpin. Tentu saja bukan hanya untuk menjadi pemimpin diri sendiri, karena sudah saya lakukan. Tapi menjadi pemimpin yang baik, yang bisa membantu anggotanya menjadi lebih baik lagi.

Saya bingung, apa memang hanya orang yang mempunyai kharisma saja yang bisa menjadi pemimpin? mempunyai good looking? Atau hanya karena orang itu laki-laki? Sebenarnya apa yang kurang dari saya?

Tanpa saya sadari, saya hanya bertanya pada diri saya sendiri. Saya terlalu malu untuk minta koreksi dari teman atau keluarga tentang kekurangan saya. Saya terlalu canggung untuk bertanya pada kakak kelas saya di OSIS. Apa saja yang harus saya perbaiki kedepannya? dan Bagaimana untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Saya masih belum berani menegur teman saya yang  sudah jelas berbuat salah. Ternyata sifat pemalu saya masih ada ya.

Tak lama, saya juga disadarkan oleh sebuah pertanyaan yang  menurut saya simpel.

“Apa bedanya pemimpin dan pimpinan?” Tanya kak Juang Akbar siang itu.

Saya berfikir sebentar, kemudian menjawab “Kalau pimpinan itu jabatan kalau  Pemimpin itu sifat yang dimiliki seseorang.”

Padahal saya sendiri yang menjawab. Saya mengerti, tapi selama ini tidak sadar kalau saya tahu. Ternyata, dari pada menjadi seorang pemimpin, saya baru ketahap pimpinan, saya baru ketahap menjadi pimpinan atau dalam arti pernah mempunyai jabatan dan sedikit mengerti tentang administrasi di organisasi. Belum menjadi seorang pemimpin yang bisa memengaruhi orang lain, mempunyai analythical  thingking ataupun  decission making.

Selama ini, ternyata saya masih menjadi pemalu, pemalu yang mempunyai angan-angan untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat. Si pemalu yang malu untuk bertanya, malu untuk mengakui kalau ternyata dirinya masih butuh banyak belajar.

Seakan masih belum cukup, kak Juang  menyampaikan sesuatu yang seharusnya membuat saya makin berkaca diri “Pemimpin itu sukses bila tujuannya tercapai, dia harus paling banyak berkorban dan paling lama bertahan.”

Kalau dalam keadaan normal, kalimat itu akan membuat saya berputus asa, lebih baik untuk mengubur mimpi menjadi pemimpin dalam dalam. Karena yang saya lakukan selama ini mungkin nol besar. Tetapi entah mengapa, yang saya rasakan sebaliknya. Saya menjadi lebih semangat dalam menggapai impian saya itu, setidaknya walau tidak jadi presiden mungkin saya bisa jadi ketua BEM saat kuliah nanti, hehehe. Yahh.. maklumi saja, ini hanya angan-angan si pemalu.

 

RELATED PROGRAM

Pengumuman Hasil Seleksi Penerima Manfaat Program Beasiswa BAS

Bersama ini kami sampaikan Hasil Seleksi Penerima Manfaat Program Beasiswa Yayasan BAS Tahun Ajar 2018-2019. Kepada Para Peserta, ...

Read more →

PENUTUPAN PROGRAM BEASISWA BAS & APRESIASI TULISAN BESWAN

Sabtu, 11 Agustus 2018, Yayasan BAS menyelenggarakan kegiatan penutupan Program Beasiswa Tahun Ajar 2017-2018 (Beswan Generasi 4) ...

Read more →

Kerja, Kuliah, atau Kerja Sambil Kuliah?

Materi Tematik ke-3 BAS 2016 Setiap orang khususnya siswa SMAKBO memiliki rencana dan tujuan masing-masing setelah lulus, apakah l...

Read more →