image-title

Hari itu, Sabtu 24 Februari, dijadwalkan untuk para Beswan BAS mengikuti kegiatan rutin bulanan yaitu tematik. Kegiatan ini sudah dilaksanakan setidaknya sekitar 3 kali secara rutin. Namun ini pertama kalinya kegiatan tematik ini dilaksanakan di luar sekolah. Hal tersebut yang membuat saya sangat bersemangat mengikuti tematik kali ini.

Tematik kali ini dilaksanakan di Villa El-Charis Ciapus. Untuk pergi ke vila itu, para Beswan berkumpul terlebih dahulu di sekolah. Kita sudah memiliki jadwal berangkat jam 6, namun jadwal tersebut terlambat hingga jam 7. Saat kita sudah bersiap berangkat kemudian kita mengecek kembali anggota Beswan yang berangkat, saat itu kita sadar bahwa Dasul belum datang. Saat itu Dasul tidak bisa dihubungi lewat chat maupun telpon, hingga akhirnya angkot akan berangkat, barulah datang Dasul dengan bergegas lalu kami berangkat. Continue reading Pelaksanaan Tematik ke-4: Tafakur Alam “One Heart One Nature”

Read More

Menjelang Praktik di Laboratorium

Praktikum Laboratorium di sekolahku berbeda dengan praktikum di sekolah SMA/SMK lainnya. Untuk 1 mata pelajaran, praktik di Laboratorium diadakan sekali dalam 1 minggu. Contohnya di Laboratorium Analisis Instrumen-2.

Setiap akan memulai praktik siswa akan mengisi absensi dan di kuis terlebih dahulu oleh guru praktik. Siswa akan ditanya-tanya tentang penetapan yang akan mereka lakukan. Sehingga setiap akan masuk ke laboratorium biasanya kita belajar bersama anggota kelompok agar nantinya bisa menjawab pertanyaan dari guru praktik. Karena kalau kita tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru praktik ada dua kemungkinan yang terjadi. Yang pertama adalah nilai LKS atau lapsus akan di minus, dan yang kedua adalah dikeluarkan untuk mencari jawaban yang tepat.
Continue reading Menjelang Praktik di Laboratorium

Read More

Suasana Rapat di Ruang Rohis

Ketika sore hari, sekitar pukul 16.30 dimana langit mulai berwarna jingga. Saya menghampiri sebuah ruangan yang berada di antara lantai satu dan dua, di sebuah bangunan yang letaknya di depan masjid Al-Muhalillin SMK-SMAK Bogor.

Di depan ruangan itu terdapat tiga anak tangga terbuat dari keramik berwarna krem. Di depan pintu, diletakan sebuah galon yang dicat biru muda yang digulung dengan benang wol berwarna merah, jingga, dan kuning. Entahlah fungsinya untuk apa, namun galon tersebut sudah lama diletakan di depan ruangan itu. Continue reading Suasana Rapat di Ruang Rohis

Read More

Sebuah tulisan “BUKA” yang kutunggu-tunggu akhirnya terpampang jelas di depan sebuah pintu yang dari kemarin sangat ingin aku kunjungi. Perpustakaan di sekolahku ini adalah tempat yang sangat nyaman untuk tidur, menyendiri, browsing, galau, dan kegiatan lainnya. Sebenarnya tujuanku ke sini adalah untuk meminjam sebuah buku, tetapi dalam hati kecilku terbesit niat untuk tidur.

Seperti biasa, sebelum masuk, aku selalu memasukkan sepatuku ke dalam loker yang berada tepat di bawah jendela perpustakaan. Loker kesukaanku adalah nomor 12. Jika ada yang bertanya mengapa harus 12, aku juga tidak tahu, aku hanya suka dengan angka itu.

Saat ku buka pintu perpustakaan, aroma khas dari buku-buku serta udara sejuk dari AC bercampur menjadi satu, menjadi aroma yang sangat aku sukai. Sangat menenangkan. Begitu masuk, aku langsung mengisi daftar hadir dengan cara mengetikkan NIS ku pada komputer yang terdapat di sebelah kiri dari pintu perpustakaan ini. Dengan begitu aku pun sudah terdaftar menjadi pengunjung perpustakaan pada hari itu.

Setelah mengisi daftar hadir, tubuhku secara otomatis menuju ke arah kiri, dimana rak-rak di bagian itu adalah letak dari buku-buku organik yang sedang aku butuhkan. Diatas rak paling ujung, terdapat sebuah cermin besar yang menempel di dinding. Biasanya cermin itu digunakan siswa untuk ‘mirror selfie’.

Sesudah aku mendapatkan buku yang akan aku pinjam, aku pun menuju tempat yang terletak tepat di belakang komputer absensi. Di sana terdapat sebuah area, berbentuk kotak yang dibatasi rak dengan tinggi kurang lebih 120 sentimeter. Area itu digunakan sebagai tempat guru pengelola perpus, dan biasanya jika siswa ingin meminjam buku, maka harus mengurusnya di tempat tersebut.

Tepat di dinding depan pintu masuk, terdapat satu meja dan satu buah komputer yang biasanya digunakan oleh pengelola perpustakaan. Di sebelah kiri dari meja tersebut, berjejer meja dan kursi untuk membaca dengan pemandangan depan sekolah yang dibatasi oleh dinding kaca. Itu lah mengapa perpustakaan menjadi tempat yang terang tanpa menggunakan lampu, tetapi tentu hanya saat siang hari.

Aku selalu pergi ke arah kanan dari pintu, karena di sana terdapat meja besar yang berisi kurang lebih 12 komputer. Di sebelahnya juga ada area luas, berisi dua meja besar, dengan kursi mengelilingi meja tersebut. Di sana juga terdapat rak di sepanjang dinding yang berisi tentang laporan-laporan Prakerin dari kakak kelas saat menjalani Praktik Kerja Industri dulu. Nantinya laporanku juga akan berada di sana.

Di sudut ruang itu juga ada ruang kecil, yang dianggap sebagai gudang. Dan tepat di depan pintu tersebut, terdapat karpet hijau yang seharusnya digunakan sebagai tempat diskusi ‘lesehan’, tetapi kebanyakan siswa menggunakan tempat tersebut untuk tidur, termasuk aku. Banyak alasan mengapa perpustakaan tempat yang paling nyaman untuk tidur, diantaranya karena tenang, jauh dari ruang kelas yang berisik oleh siswa, dan tentu saja sepi. Bagaimana tidak sepi jika hanya beberapa orang yang sering mengunjungi perpus ini? Aromanya juga segar. Ditambah pemandangan atap perpus yang indah, terbuat dari eternit membentuk pola yang bagus dan tentu banyak tempat tersembunyi untuk tidur.

Akan tetapi, saat aku hendak merebahkan diri di atas karpet hijau, tiba-tiba saja bel masuk berbunyi. Tentu saja rencana tidurku gagal karena aku harus kembali ke kelas.

 

Oleh Mutiara Nanda (Angkatan 61/ Beswan Gen-4)

Read More

Sudah menjadi hal lumrah di kalangan anak SMAKBO, setelah UAS pasti akan ada ujian selanjutnya, yaitu remedial. Suatu ujian yang nyatanya sangat perlu dilakukan untuk beberapa siswa yang butuh nilai tepat mencapai standar kelulusan (KKM), keterpaksaan membuat kita harus datang ke sekolah pada saat semua siswa yang tidak remed sudah menikmati liburannya.

Remedial sendiri telah lama menjadi tradisi bagi siswa-siswi SMAKBO. Kebanyakan dari mereka yang remedial bukan karena tidak bisa mengerjakan soal, melainkan karena mereka tidak beruntung saja. Masa remedial merupakan ajang untuk membuktikan siapa yang terkena remed paling sedikit di antara teman-teman semua.

Sebelum remedial tes setiap guru akan memberikan remedial teaching. Pada saat inilah setiap siswa saling mengejek dan bertanya tentang berapa banyak remedial yang telah didapatkan. Selama menunggu guru datang, seisi ruangan akan ribut dan dipenuhi oleh pembicaraan yang sebenarnya tidak penting. Ketika guru tiba, lalu memberikan materi maka semua siswa akan langsung diam dan mendengarkannya.

Karena remedial ini dialami oleh sebagian besar angkatan di SMAKBO, remedial teaching menggunakan 2 atau 3 ruangan sekaligus. Pada setiap ruangan tersebut dapat diisi oleh 45 orang. Jelas jumlah ini sudah melebihi kapasitas ruangan yang ada, akibatnya beberapa siswa ada yang duduk di lantai.

Setelah mendapat remedial teaching, keesokan hari diadakan remedial test. Biasanya remedial test akan dilaksanakan pada beberapa ruangan tertentu dengan posisi duduk yang diberikan dapat berpasangan atau juga sendiri. Bila berpasangan biasanya kakak kelas akan duduk dengan adik kelas, dan selalu begitu.

Hasil dari remedial test, nilai sebagus apapun yang diperoleh akan pasti tertulis 75 di raport tanpa terkecuali.

 

Oleh Pandu (Angkatan 61/Beswan Gen 4)

Read More