image-title

Kita harus berkeyakinan bahwa perbuatan baik kita, nantinya akan kembali balik ke kita. Sesuai hukum Kekekalan Energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan oleh manusia. Namun energi dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Maka, energi kebaikan yang kita berikan pasti akan kembali ke kita.

Hal itu tersampaikan pada Pembukaan Program dan Gathering Perdana Program Beasiswa BAS Generasi ke-5 yang diselenggarakan Yayasan Bakti Asih Sesama. Acara berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018 di SMK SMAK Bogor, yang dihadiri Penerima Manfaat (Beswan), orang tua Beswan, dan perwakilan Sekolah.

Pada gathering ini, Yayasan menggambarkan aktivitas-aktivitas yang akan dijalankan selama Program BAS Generasi ke-5. Harapannya, peserta memahami tentang Program Beasiswa BAS, sekaligus media silaturahmi antara Yayasan BAS dengan Beswan, orang tua Beswan, dan pihak sekolah. Continue reading Memancarkan Energi Kebaikan

Read More

Bersama ini kami sampaikan Hasil Seleksi Penerima Manfaat Program Beasiswa Yayasan BAS Tahun Ajar 2018-2019.

Kepada Para Peserta, Mohon membaca Catatan dengan cermat dan menghubungi nomor ybs. untuk informasi lebih lanjut. Continue reading Pengumuman Hasil Seleksi Penerima Manfaat Program Beasiswa BAS

Read More
image-title

Bogor, 23 November 2018 – Yayasan Bakti Asih Sesama (BAS) mengadakan kegiatan wawancara untuk penerimaan Peserta Beasiswa BAS pada tahun ajar 2018-2019. Acara yang berlangsung di SMAKBo ini terdiri atas 2 sesi, yakni sesi Wawancara dan FGD (Focus Group Discussion). Sebanyak 31 dari 35 pendaftar telah mengikuti proses seleksi, 4 sisanya akan menyusul karena harus mengikuti lomba di IPB.

Proses seleksi dimulai dengan perkenalan seluruh personil panitia. Lalu, calon Beswan dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan minat bidang pekerjaan pasca lulus sekolah. Mereka terbagi menjadi 6 kelompok, yaitu bidang Nuklir, bidang Mikrobiologi, bidang Gas and Oil, bidang Food and Beverages 1 dan 2, terakhir bidang Lingkungan.

Continue reading Seleksi Penerima Manfaat Program Beasiswa BAS Tahun Ajar 2018-2019

Read More

Di foto itu, Lily yang pakai kaus kuning, Piqi yang pakai batik jingga, dan Ayu yang pakai kaus hitam-kuncir kuda. Yang pakai kaus hitam sambil nyengir itu saya-yang sebenarnya lagi mikir keras gimana supaya kertasnya bisa jadi bebek.

Jujur saya pribadi adalah tipe orang yang-tanpa pikir panjang-bakal memilih tidur atau istirahat seharian di rumah sepanjang akhir pekan dibanding harus ikut kegiatan sosial. Bahkan kalau ada yang tanya kapan terakhir kali saya ikut kegiatan sosial, kayaknya saya cuma bisa nyengir. Dan saya dibuat kaget sama diri saya sendiri yang bisa-bisanya ngomong dalam hati “Ya Allah, kapan lagi ya bisa ketemu anak-anak ini lagi?” sepulang acara, sambil pijat-pijat bahu.

Ya, kegiatan beswan bulan ini, kami berkesempatan untuk bergabung dengan Organisasi Terminal Hujan dalam kegiatan ‘Ramadhan bersama Terminal Hujan’. Macam kegiatannya ada lomba mewarnai, lomba kaligrafi, Tausiyah, pembagian sembako, dan Bazaar pakaian layak pakai. Dan saya kebagian tugas menjaga balita yang orang tuanya sedang ikut Tausiyah.

Serius. Sebenarnya saya suka anak-anak, banget. Entah kenapa, berada di antara anak-anak-ajaibnya-bisa membuat mood saya naik, senaik-naiknya. Dan saya juga tahu, saya bukan tipe manusia ramah nan menyenangkan yang disenangi anak-anak-bikin nangis sih iya. Makanya, saat nama saya ada di dalam list PJ Playground-usia balita, saya kaget bukan main. Bingung tepatnya. Apa yang harus  saya lakukan supaya mereka senang atau setidaknya tidak menangis minta pulang selama 3 jam penuh? Membayangkannya saja saya ingin nangis.

Jujur, acaranya berlangsung hari Minggu dan saya ada jadwal uji kompetensi hari Seninnya. Sebagai murid yang baik, saya memilih belajar seharian hari Sabtu, yang intinya saya tidak menyiapkan apapun untuk bersenang-senang esoknya

Dan jadilah saya ‘teteh-teteh yang cuma bisa bengong’ waktu anak-anak datang dan langsung akrab dengan kakak-kakak dari TH-Terminal Hujan. Kagum dan iri bercampur. Coba bayangkan, anak-anak yang datang langsung menghambur ke pelukan mereka, peluk-peluk sambil bilang kangen, juga sibuk cerita seru soal ini itu. Tidak ada ikatan darah di sana, dan mereka bisa sedekat itu? Senyaman itu? Sebahagia itu?

Detik itu juga saya belajar cara ‘mencari perhatian’ dengan mengamati kakak-kakak TH. Mereka kreatif, sangat. Mulai dari mendongeng dengan boneka tangan, bernyanyi bersama, atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan sepele yang mengundang tawa anak-anak. Saya coba trik yang pertama, saya mengambil satu boneka tangan berbentuk jerapah. Dan satu anak dengan santainya berlari ke arah saya dan duduk di pangkuan saya. Tahap 1 berhasil.

Tadinya saya ingin memulai konversasi ringan, namun ternyata anak itu yang lebih dulu mulai. ” Kak! Pakein bonekanya ke tangan aku, dong!” sambil merebut boneka tangan itu dari tangan saya. Saya menurut saja sambil senyum. Polos. Mana saya tahu selanjutnya muka saya diserang sama jerapahnya. Ceritanya saya dimakan jerapah.

Ya, saya terjungkal ke belakang. Malu? Iya. Tapi saya tertawa saat itu.

“Kakak jadi sofa aku hari ini!” Bocah itu bilang lagi setelahnya, sambil terus bergerak di pangkuan saya, tidak mau diam sambil asyik bercerita soal jerapahnya. Saya perhatikan sekeliling saya. Oh, setiap pembimbing memegang satu anak di pangkuan mereka, dan kebetulan anak  yang saya pegang adalah tipe aktif. Saya lega, saya tidak harus berpikir soal topik pembicaraan berhubung anak ini hobi banget cerita.

Mengenal Lily

Jangan kaget, namanya Lily. Nama yang cocok untuk tipe anak kalem. Tapi Lily yang satu ini pengecualian.

Lily ini tipe anak yang lebih pilih menyerang semua boneka hewan dengan jerapah di tangannya dibandingkan harus mengikuti alur cerita kakak TH-sambil mengeluarkan suara-suara hewan-khas dongeng balita. Atau lebih pilih main tembak-tembakan dibanding membuat bebek kertas. Atau lebih pilih menyelesaikan puzzle dibandingkan harus main bola warna-warni. Ya, meskipun akhirnya ia tetap melakukan semua kegiatannya sambil manyun.

Kami banyak cerita, ngobrol berdua. Ternyata usia Lily ini bisa dibilang ‘tanggung’. Terlalu membosankan untuk ikut games dan dongeng ala balita, tapi umurnya belum cukup untuk ikut lomba mewarnai. Makanya, Lily tidak terlalu aktif mengikuti agenda kegiatan balita yang sudah disusun kakak TH, dan lebih memilih membuat acaranya sendiri dengan saya.

Cuma butuh setengah jam, dan kami sudah akrab. Cukup akrab untuk membuat Lily enggan melepas tangan saya saat anak-anak harus berbaris. Lily tetap menggenggam kuat tangan saya sambil bilang jangan pergi. Duh, mana tega saya. Meskipun akhirnya saya janji bakal jagain jerapah dia dan tidak pergi ke mana-mana. Barulah Lily mau berbaris dengan teman-temannya.

Saya yang tipikal biasa membuat anak orang nangis kejer dibuat terharu dengan permintaan Lily itu. Oh, hei? Saya berhasil hari ini?

Dan tibalah saat pulang. Yang anehnya perasaan saya bercampur. Lega, puas, sedih, senang, nano-nano homogen jadi satu. Saya iseng tanya ke Lily, “Kamu seneng banget enggak hari ini? Udah capek belum?”

Dan saya dibuat terbang seterbang-terbangnya waktu Lily jawab tanpa pikir panjang, “Udah capek, tapi seneeeng bangeeeettt!” Ya, Lily bilang capek tapi setelahnya tangannya membentuk pistol lagi dan mau tidak mau saya ikut lagi dalam permainan tembak-tembakannya.

Ada satu kalimat Lily yang membuat kami semua tertawa. Saat itu ia hendak mengejar ibunya, lalu ia menitipkan susu, bendera, bebek kertasnya kepada saya sambil teriak bilang, “Kak, titip, kayak biasa !” Saya tertawa saat itu juga, ‘kayak biasa’? Saya serasa Abang basreng langganan.

Ya, kami berdua sama-sama sudah terbiasa. Tiga jam yang ajaibnya mampu membiasakan kami satu sama lain. Awalnya saya sendiri heran, kenapa Lily mau-maunya menempel dengan Saya yang 101% membosankan.

Mungkin satu hal. Namanya juga anak-anak, ingin dipahami, ingin dimengerti, ingin dituruti, ingin diperhatikan. Fakta Lily yang punya banyak saudara ini membuat saya sedikit banyak paham tentang bagaimana senangnya Lily dapat perhatian penuh dari saya, bahkan sampai enggak rela kalau saya pergi.

“….Abisnya kakak baik.”

Duh, sedih saya waktu dia sudah banyak bicara soal ‘nanti kita ini itu ya kak..’ . Mana paham Lily kalau saya cuma bergabung satu hari.

Saya ingat wajahnya waktu bilang ‘dadah!’ sambil memegang tangan ibunya. Saya senang. Sangat. Sambil terus berdoa dalam hati  soal kemungkinan pertemuan kami lagi, soal kebahagiaan Lily, kesuksesan dan cita-citanya. Juga untuk semua anak-anak hebat yang saya temui. Yang mengajari saya banyak hal hari itu.

Pegal punggung saya hari itu. Tidak seperti biasanya di sekolah yang hanya berperan sebagai murid, hari itu saya merangkap peran. Sebagai murid-pembimbing-seorang kakak-seorang teman-dan sebuah sofa.

Sofa yang bahagia.

Penulis Nabila Putri (Angkatan 61)

Read More

Genap sudah. Akhirnya, saya dan teman-teman beswan lainnya dipertemukan di penghujung rangkaian tematik bulanan, tepat di Sabtu penghujung Juni lalu. Juga kembali diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan orang-orang hebat, yang semoga bukan untuk terakhir kalinya.

Kali ini kami diberi bimbingan dan gambaran tentang medan perang kami selanjutnya—setelah lulus SMAKBo—. Lewat pengalaman-pengalaman dari mereka yang sudah jauh lebih dulu melewatinya. Mulai dari penerapan prinsip-prinsip analisis saat bekerja nanti—misalnya penerapan alat GC, sampai lika-liku sampling limbah gas dari cerobong asap yang butuh waktu seharian.

Dan tamu istimewa kami kali ini, pertama ada Abah dengan segudang pengalamannya bertahun-tahun bergelut di dunia kimia, yang semuanya tergambar jelas dari sorot mata di balik lensa kacamata beliau, bagaimana beliau bercerita sambil membayangkan masa mudanya dulu.

Mulai dari kisah persahabatan yang awet puluhan tahun tanpa asam benzoat, kisah seru beliau yang berani tolak kunci mobil demi mempertahankan prinsipnya yang jujur dan amanah, sampai tranformasi rambut beliau dari gondrong—yang pernah tren di masanya, sampai sekarang yang sisa separuh, dan memutih.

Kemudian ada Bu Yane Emran, seorang ibu dengan segala pengalaman luar biasanya dalam merintis karir, tentunya di bidang kimia. Ada satu kalimat yang saya garis bawahi dari beliau—menurut saya, ini keren, banget.
Kurang lebih begini, ‘Pokoknya, terus perbaiki diri, pantaskan diri, tingkatkan kualitas diri, supaya ketika kesempatan itu datang, kita bertemu di titik koordinat yang sama.’

Sederhananya, semisal, saya ingin sekolah ke luar negeri—tentunya saya harus mahir berbahasa Inggris. Kapannya, tidak ada yang tahu. Intinya, terus belajar bahasa Inggris, kerahkan ikhtiar terbaik. Supaya sekalinya ada kesempatan beasiswa ke luar negeri, kita sudah siap.

Tuhan tidak pernah tidur, dan jangan pernah lupakan janji-Nya tentang balasan atas setiap hal, sekecil apapun, yang telah kita lakukan.
Banyak pengalaman-pengalaman hebat lainnya yang saya—dan juga teman-teman beswan lainnya—terima, yang luar biasa berharga. Butuh puluhan tahun untuk mendapatkannya, dan tentunya, tidak sembarang orang mampu dapatkan.

Penulis Nabila Putri (Angkatan 61)

Read More