image-title

Tema tematik kali ini ‘Kehidupan Pasca SMAKBO.’ Rizki, seorang Beswan berkata, Tematik ini penting karena beswan membutuhkan arahan dan bayangan bagaimana kehidupan setelah lulus dari SMAKBO.”

Pemateri pertama adalah Sarjono Budi Santoso. Beliau alumni dari SAKMA (sebelum berganti nama menjadi SMAKBO) angkatan 25. Setelah lulus dari SMAKBO, beliau langsung masuk ke dunia industri tanpa berkuliah terlebih dahulu.

Beliau berkata, “Alumni dari SAKMA tidak pernah kekurangan pekerjaan, karena kualitas lulusannya baik, dan juga kala itu ekonomi indonesia sedang sangat kuat. Sehingga tenaga analis kimia banyak dibutuhkan di dunia industri.”

Beliau juga memberikan saran bagi para beswan untuk mempelajari bahasa asing selain bahasa inggris, seperti bahasa Mandarin. Karena bila seseorang menguasai banyak bahasa, menjadi added value atau nilai tambah bagi dirinya.

Beliau berkata bahwa penguasaan bahasa itu penting karena tanpa kemampuan berbahasa, maka kita akan tertinggal. Terlebih di era sekarang ini, saat ekonomi indonesia sudah masuk ke era pasar bebas aktif yang mana banyak pengusaha dari luar negeri khususnya China yang mendominasi perekonomian di Asia. Sehingga untuk membangun relasi yang luas, maka kita harus mampu berkomunikasi, dan yang mendukung hal tersebut adalah kemampuan berbahasa.

Selain kemampuan berbahasa dan keterampilan dalam pekerjaan, beliau menekankan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki seseorang adalah soft skill. Dimana soft skill ini dapat berupa kemampuan dalam beradaptasi di lingkungan baru, kemampuan membawa diri, kemampuan berpikir kritis, dan lain-lain.

Karena tanpa hal-hal tersebut, sebaik apapun keterampilan seseorang, dia tidak akan bisa berkembang di lingkungannya dan tidak akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang terakhir, untuk mencapai kesuksesan, hal yang harus kita miliki adalah rahmat dari Tuhan YME, karena tanpa rahmat-Nya, apa yang kita usahakan akan sia-sia.

Memilih Kuliah

Pemateri kedua adalah Yusuf Noer Arifin. Ia alumni SMAKBO angkatan 59, dan merupakan bintang pelajar di angkatannya. Ia memaparkan tentang seberapa pentingnya kuliah dan kenapa lulusan SMAKBO harus berkuliah.

Dalam bangku perkuliahan, alumni SMAKBO akan mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan selama masih bersekolah. Dengan berkuliah, maka mereka bisa lebih mengembangkan soft skill (organisasi, kepanitiaan, dsb). Dan diberi ruang yang lebih luas untuk meng-explore bidang yang diminati.

Dalam dunia perkuliahan, terdapat beberapa aspek yang ditempa secara terus menerus, yaitu karakter, soft skill, ilmu, relasi, dan pengalaman. Berhasil atau tidaknya tempaan tersebut bergantung mahasiswa tsb, karena mereka diberikan ruang gerak yang lebih luas untuk membentuk dan mengatur dirinya sendiri.

Dengan bekal keterampilan dari SMAKBO, ditambah lagi dengan 5 aspek yang dikuasai di dunia perkuliahan, maka lulusan SMAKBO dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan berkembang sebelum masuk ke dunia industri.

Bekerja Sembari Kuliah

Pemateri ketiga adalah Fachrizka Mubianty. Ia alumni SMAKBO angkatan 51 yang setelah lulus dari SMAKBO melanjutkan pekerjaannya sebagai analis sekaligus berkuliah.

Ia mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapatkan seseorang yang bekerja dan mengambil kelas ekstensi di perkuliahan. Waktu menjadi lebih efisien dan lebih paham bagaimana caranya mengatur waktu serta membangun banyak relasi dalam waktu yang bersamaan.

Namun, bekerja sekaligus kuliah tidaklah mudah. Seseorang harus rela mengorbankan waktu istirahat di akhir minggu untuk bekerja dan menghabiskan hari-hari biasa untuk bekerja. Ditambah lagi dengan tugas kuliah yang juga cukup memberatkan, bukan tidak mungkin orang yang mau bekerja sambil kuliah mengalami stres karena pekerjaan dan tugas-tugasnya yang lain. Sehingga keduanya dapat terlalaikan. Maka, sebelum memilih jalan apa yang ingin dilakukan setelah lulus dari SMAKBO harus mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari kemampuan pribadi, kondisi kesehatan, dan lain lain.

Setelah sesi materi selesai beberapa beswan berkata “waduh, tambah goyah nih mau gimana setelah lulus.” Namun, beberapa yang lain merasa bahwa informasi yang disampaikan oleh pemateri justru memantapkan niatnya. Baik itu langsung bekerja, kuliah, ataupun bekerja sambil berkuliah.

oleh Aliefi Mutiara Syafitri (Angkatan 62, Beswan Generasi 5)

Read More
image-title

Tak seperti sabtu pada umumnya dimana aku bersiap pagi-pagi untuk pergi ke pasar dan berbelanja keperluan memasak. Berharap semua tugas rumah segera selesai dan aku bisa pergi ke sekolah untuk sekedar mengikuti perkumpulan rutin ekstrakulikuler pecinta alam yang diadakan setiap Sabtu.

Kali ini aku bersiap pagi-pagi, tapi bukan untuk berbelanja. Melainkan untuk pergi ke Jakarta! Kota metropolitan yang terkenal akan kemacetan dan hiruk pikuk warganya. Kota yang sama yang disebut kota Batavia, tempat berkumpulnya sejarah dari masa lampau, sekaligus tempat dibangunnya masa depan yang kapan datangnya pun aku tak tau.

Salah satu transportasi yang menjadi pilihanku untuk pergi ke Jakarta adalah kereta listrik atau yang lebih dikenal dengan  istilah Commuter Line. Tak sesuai ekspektasiku, hari sabtu di Jakarta tak sepadat seperti yang kulihat di TV-TV.

Biasanya kereta menuju Jakarta sangat padat. Pundak-pundak orang bersentuhan aroma parfum dan keringat yang bercampur aduk, hingga anak-anak yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. Namun kali ini berbeda, walaupun ramai, tapi kereta yang kutumpangi tidak seramai biasanya.

Masih ada kursi kosong tersedia untuk kugunakan duduk dan memejamkan mata walau hanya sebentar. Disamping kiriku ada laki-laki yang mengenakan Headphone  sambil mendengarkan lagu grup musik Korea, black-pink dengan suara yang sangat kencang. Bahkan aku pun bisa mendengarnya.

Lain halnya dengan wanita yang berada di samping kananku, dia asyik bermain game Temple Run. Men-swipe jarinya ke kanan dan ke kiri , dan saat pemainnya masuk ke jurang dia terlihat sedikit terlonjak dan mengeluh “yaelah”.

Setelah perjalanan satu setengah jam di kereta, ditambah satu jam lagi untuk menunggu temanku yang lain datang. Akhirnya aku memulai perjalanan untuk berkeliling jakarta.

Jakarta terlihat seperti tempat berkumpulnya gedung tinggi. Gedung-gedung yang tingginya tak kurang dari sepuluh hingga tiga puluh lantai dapat kulihat di depan, belakang, dan kanan-kiriku. Beberapa bajaj terparkir dengan rapi di tepi jalan, membentuk barisan berwarna biru, orang didalamnya berteriak  “Yok museum gajah, Neng!”.

Ada juga delman yang keretanya sudah dihiasi dengan berbagai pernak-pernik berwarna hijau, merah, biru, bahkan kuning. Dengan kuda yang juga telah didandani dengan hiasan di kepala dan kakinya, semacam benang yang diikat menjadi berbentuk bel berwarna merah putih. Namun jumlah delman disini dapat dihitung dengan jari, mungkin hanya lima atau enam  yang aku lihat.

Di trotoar ada juga beberapa kursi yang disediakan untuk para pejalan kaki. Kursi-kursi berwarna putih dengan hiasan maskot Asean Games dibelakangnya. Tapi tidak ada orang yang mendudukinya, entah karena mereka sibuk, atau lokasi kursi yang kurang strategis karena tepat dibawah terik matahari.

Tiba di Museum Nasional RI

Setelah kurang lebih dua puluh menit di perjalanan, akhirnya aku sampai ke destinasi pertamaku; Museum Nasional RI. Entah mengapa aku baru sadar bahwa Museum Gajah yang dimaksud supir bajaj tadi adalah Museum Nasional, karena jika diperhatikan di bagian depan museum terdapat sebuah patung gajah dengan belalai dan perut gendutnya.

Bagian depan Museum ini didesain dengan gaya kolonial namun futuristik. Kesan kolonial terlihat dari bagunan yang didominasi dengan cat berwarna putih dengan pilar-pilar setinggi empat sampai lima meter. Dibagian ujung atas dan bawah pilar-pilar itu terdapat ukiran dengan bentuk yang beragam.

Ditambah lagi dengan model jendela dan pintu kayu yang dengan tinggi mencapai tiga kali orang dewasa semakin mempererat kesan kolonial dan mengingatkanku pada bangunan yang sering ditampilkan di film-film jaman dulu, rumah pejabat kompeni.

Sementara kesan futuristik disuguhkan di bagian kanan depan museum, dimana terdapat sebuah pajangan. Sebuah objek berbentuk setengah bola berwarna hitam dengan diameter kurang lebih lima meter. Di dalamnya dibuat seakan ada beberapa orang yang sedang terseret dalam  ombak, atau bahkan lebih seperti pusaran. Seorang anak bahkan berteriak “Ibu, aku mau liat blackhole”.

Masih dengan gaya kolonial yang elegan, bagian dalam museum juga didominasi dengan warna putih. Saat memasuki ruangan pertama dalam Museum, aku disuguhi pemandangan patung, arca, relief, hingga prasasti yang disusun dengan rapi. Di setiap display place-nya terdapat tulisan yang intinya;  dilarang menyentuh semua koleksi Museum. Continue reading Belajar dari Patung

Read More
image-title

Sabtu, 9 Februari 2019, Yayasan BAS mengadakan Tematik ke-2 untuk Penerima Manfaat (Beswan) Generasi 5 bertema Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam. Tema ini dipilih karena kami meyakini, setiap penduduk Indonesia apapun bidang keilmuannya, haruslah memiliki rasa Cinta terhadap Tanah Air serta berpikir untuk melestarikan alam. Pembelajaran tersebut tidak harus melulu di dalam kelas, membangkitkan rasa Cinta Tanah Air dapat dicapai melalui kunjungan ke fasilitas publik yang sarat dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Kali ini, 20 Beswan mengunjungi 2 tempat di Jakarta yaitu Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI. Ingin tahu seperti apa keseruan kegiatan Tematik ke-2 ini, yuk simak tulisan Beswan berikut. Pertama berjudul Memaknai Kebudayaan Indonesia oleh Difa Afiyah Sucisatryani, judul kedua Belajar dari Patung (klik judul) oleh Aliefi Mutiara Syafitri. Selamat menikmati.

Memaknai Kebudayaan Indonesia

Difa Afiyah Sucisatryani

Pada hari Sabtu, 9 Februari 2018 adalah salah satu hari yang sangat berharga untukku. Pada hari itu, aku dan teman-teman dari “Beswan Gen 5” mengikuti kegiatan tematik ke-2 yang dilaksanakan di Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI yang berada di Jakarta. Kenapa aku sebut sebagai hari yang berharga? Itu bukan kalimat hiperbola semata, tetapi adalah suatu fakta yang pada hari itu aku dapat mengenal sejarah budaya Indonesia lebih dalam lagi sekaligus melakukan tafakur alam.

Pembukaan yang sangat menyentuh dalam kegiatan tematik kali ini adalah ‘orang dulu lebih bijak persoalan lingkungan‘, begitulah sekiranya kalimat yang disampaikan oleh Kak Reyhan selaku tourguide saat kita berada di Museum Nasional. Jika Kalian pergi ke Museum Nasional, kalian akan disambut dengan banyaknya arca-arca Budha dan Hindu, patung-patung kuno, dan prasasti. Hal itu yang membuat mataku terpesona dengan setiap pahatan yang dibuat orang zaman dulu. Aku semakin berpikir bahwa dari zaman dahulu Indonesia sudah maju dengan ilmu pahatan di atas batunya yang  juga dipandang luar biasa oleh bangsa asing.

Akan kukenalkan salah satu patung yang menarik perhatianku dan masih aku ingat jelas bentuknya sampai saat ini. Patung itu bernamakan Kala. Digambarkan dengan sebuah kepala dengan kedua mata yang melotot menambah kesan seram pada patung tersebut. Usut punya usut, Kala digambarkan seperti itu agar menyerupai malaikat pencabut nyawa yang sebenarnya makna Kala adalah menggambarkan waktu. Semakin dipikirkan, waktu yang terbuang sia-sia akan menjadi menyeramkan disaat hari pertanggung-jawaban tiba. Dan juga waktu tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Itulah mengapa Kala digambarkan seseram itu. Continue reading Tematik Ke-2 2019, Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam

Read More
image-title

Sabtu, 26 Januari 2019, 20 penerima manfaat Beasiswa BAS mengikuti Tematik bertema Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional. Ada 2 fasilitator, Juang Akbar Magenda bercerita tentang Kepemimpinan, dilanjutkan dengan Puji Maharani membahas tentang pentingnya Komunikasi yang Efektif. Benang merah dari tema ini seperti yang dikatakan Puji, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik”.

Sebagai konfirmasi pemahaman Beswan, setiap Beswan membuat satu tulisan utuh seputar topik kepemimpinan dan kepemimpinan profesional. Berikut tulisan berjudul Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin oleh M Raafi Adhasyah dan Angan-Angan Si Pemalu oleh Nurul Bunga Kurnia, selamat membaca.

Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin

M Raafi Adhasyah

Seorang pemimpin harus mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah komunikasi. Dengan komunikasi efektif, pemimpin dapat mengajak, mengarahkan, dan menggerakan anggota untuk mencapai kepentingan bersama. Semua orang pasti mempunyai sikap kepemimpinan masing-masing, namun tidak semua orang berbakat atau bisa menjadi pemimpin, maka dari itu diperlukan pelatihan/seminar kepemimpinan seperti yang dilakukan Yayasan BAS untuk Beswan Gen 5 pada hari Sabtu, 26 Januari 2019.

Pemimpin tidak boleh hanya mementingkan jabatan. Memang benar, semua orang yang punya jabatan tinggi  umumnya punya sikap kepemimpinan yang bagus. Tetapi, saat melakukan pekerjaan, pemimpin harus bersikap selayaknya dan harus fokus pada tujuan. Harapkanlah kesuksesan bersama, anggaplah sebuah jabatan sebagai hadiah atas keberhasilan bersama.

Pemimpin pun harus mengesampingkan egonya. Memang puas rasanya untuk memaksakan ego. Namun, apa anggota yang lain juga puas? Karena itu pemimpin harus bisa memahami, mengetahui kemampuan, dan mengenal anggotanya, dengan begitu pemimpin dapat mewujudkan keberhasilan dan tentu anggota juga akan merasa puas dengan kinerjanya masing-masing. Untuk mewujudkan ini pemimpin harus melakukan berbagai macam pendekatan dan berkomunikasi dengan anggota. Pemimpin dapat dikatakan benar-benar menjadi seorang pemimpin apabila dapat merangkul anggotanya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya pemimpin harus dapat berkomunikasi efektif. Tidak semua orang bisa melakukan hal ini, tapi bagi orang yang bisa melakukan ini maka dapat dikatakan dia berbakat sebagai pemimpin. Puji Maharani berkata cara untuk komunikasi efektif adalah dengan memberlakukan 3C yaitu CLEAR (jelas) – CONCISE (ringkas) – COMPLETE (lengkap). Dara kelahiran Surabaya yang tumbuh besar di Bandung ini menanyakan kepada seluruh Beswan Gen 5,

“Apa itu komunikasi? Coba Anda jelaskan dengan satu kata!” Continue reading Tematik ke-1 2019, Kepemimpinan dan Komunikasi Profesional

Read More

Di foto itu, Lily yang pakai kaus kuning, Piqi yang pakai batik jingga, dan Ayu yang pakai kaus hitam-kuncir kuda. Yang pakai kaus hitam sambil nyengir itu saya-yang sebenarnya lagi mikir keras gimana supaya kertasnya bisa jadi bebek.

Jujur saya pribadi adalah tipe orang yang-tanpa pikir panjang-bakal memilih tidur atau istirahat seharian di rumah sepanjang akhir pekan dibanding harus ikut kegiatan sosial. Bahkan kalau ada yang tanya kapan terakhir kali saya ikut kegiatan sosial, kayaknya saya cuma bisa nyengir. Dan saya dibuat kaget sama diri saya sendiri yang bisa-bisanya ngomong dalam hati “Ya Allah, kapan lagi ya bisa ketemu anak-anak ini lagi?” sepulang acara, sambil pijat-pijat bahu.

Ya, kegiatan beswan bulan ini, kami berkesempatan untuk bergabung dengan Organisasi Terminal Hujan dalam kegiatan ‘Ramadhan bersama Terminal Hujan’. Macam kegiatannya ada lomba mewarnai, lomba kaligrafi, Tausiyah, pembagian sembako, dan Bazaar pakaian layak pakai. Dan saya kebagian tugas menjaga balita yang orang tuanya sedang ikut Tausiyah.

Serius. Sebenarnya saya suka anak-anak, banget. Entah kenapa, berada di antara anak-anak-ajaibnya-bisa membuat mood saya naik, senaik-naiknya. Dan saya juga tahu, saya bukan tipe manusia ramah nan menyenangkan yang disenangi anak-anak-bikin nangis sih iya. Makanya, saat nama saya ada di dalam list PJ Playground-usia balita, saya kaget bukan main. Bingung tepatnya. Apa yang harus  saya lakukan supaya mereka senang atau setidaknya tidak menangis minta pulang selama 3 jam penuh? Membayangkannya saja saya ingin nangis.

Jujur, acaranya berlangsung hari Minggu dan saya ada jadwal uji kompetensi hari Seninnya. Sebagai murid yang baik, saya memilih belajar seharian hari Sabtu, yang intinya saya tidak menyiapkan apapun untuk bersenang-senang esoknya

Dan jadilah saya ‘teteh-teteh yang cuma bisa bengong’ waktu anak-anak datang dan langsung akrab dengan kakak-kakak dari TH-Terminal Hujan. Kagum dan iri bercampur. Coba bayangkan, anak-anak yang datang langsung menghambur ke pelukan mereka, peluk-peluk sambil bilang kangen, juga sibuk cerita seru soal ini itu. Tidak ada ikatan darah di sana, dan mereka bisa sedekat itu? Senyaman itu? Sebahagia itu?

Detik itu juga saya belajar cara ‘mencari perhatian’ dengan mengamati kakak-kakak TH. Mereka kreatif, sangat. Mulai dari mendongeng dengan boneka tangan, bernyanyi bersama, atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan sepele yang mengundang tawa anak-anak. Saya coba trik yang pertama, saya mengambil satu boneka tangan berbentuk jerapah. Dan satu anak dengan santainya berlari ke arah saya dan duduk di pangkuan saya. Tahap 1 berhasil.

Tadinya saya ingin memulai konversasi ringan, namun ternyata anak itu yang lebih dulu mulai. ” Kak! Pakein bonekanya ke tangan aku, dong!” sambil merebut boneka tangan itu dari tangan saya. Saya menurut saja sambil senyum. Polos. Mana saya tahu selanjutnya muka saya diserang sama jerapahnya. Ceritanya saya dimakan jerapah.

Ya, saya terjungkal ke belakang. Malu? Iya. Tapi saya tertawa saat itu.

“Kakak jadi sofa aku hari ini!” Bocah itu bilang lagi setelahnya, sambil terus bergerak di pangkuan saya, tidak mau diam sambil asyik bercerita soal jerapahnya. Saya perhatikan sekeliling saya. Oh, setiap pembimbing memegang satu anak di pangkuan mereka, dan kebetulan anak  yang saya pegang adalah tipe aktif. Saya lega, saya tidak harus berpikir soal topik pembicaraan berhubung anak ini hobi banget cerita.

Mengenal Lily

Jangan kaget, namanya Lily. Nama yang cocok untuk tipe anak kalem. Tapi Lily yang satu ini pengecualian.

Lily ini tipe anak yang lebih pilih menyerang semua boneka hewan dengan jerapah di tangannya dibandingkan harus mengikuti alur cerita kakak TH-sambil mengeluarkan suara-suara hewan-khas dongeng balita. Atau lebih pilih main tembak-tembakan dibanding membuat bebek kertas. Atau lebih pilih menyelesaikan puzzle dibandingkan harus main bola warna-warni. Ya, meskipun akhirnya ia tetap melakukan semua kegiatannya sambil manyun.

Kami banyak cerita, ngobrol berdua. Ternyata usia Lily ini bisa dibilang ‘tanggung’. Terlalu membosankan untuk ikut games dan dongeng ala balita, tapi umurnya belum cukup untuk ikut lomba mewarnai. Makanya, Lily tidak terlalu aktif mengikuti agenda kegiatan balita yang sudah disusun kakak TH, dan lebih memilih membuat acaranya sendiri dengan saya.

Cuma butuh setengah jam, dan kami sudah akrab. Cukup akrab untuk membuat Lily enggan melepas tangan saya saat anak-anak harus berbaris. Lily tetap menggenggam kuat tangan saya sambil bilang jangan pergi. Duh, mana tega saya. Meskipun akhirnya saya janji bakal jagain jerapah dia dan tidak pergi ke mana-mana. Barulah Lily mau berbaris dengan teman-temannya.

Saya yang tipikal biasa membuat anak orang nangis kejer dibuat terharu dengan permintaan Lily itu. Oh, hei? Saya berhasil hari ini?

Dan tibalah saat pulang. Yang anehnya perasaan saya bercampur. Lega, puas, sedih, senang, nano-nano homogen jadi satu. Saya iseng tanya ke Lily, “Kamu seneng banget enggak hari ini? Udah capek belum?”

Dan saya dibuat terbang seterbang-terbangnya waktu Lily jawab tanpa pikir panjang, “Udah capek, tapi seneeeng bangeeeettt!” Ya, Lily bilang capek tapi setelahnya tangannya membentuk pistol lagi dan mau tidak mau saya ikut lagi dalam permainan tembak-tembakannya.

Ada satu kalimat Lily yang membuat kami semua tertawa. Saat itu ia hendak mengejar ibunya, lalu ia menitipkan susu, bendera, bebek kertasnya kepada saya sambil teriak bilang, “Kak, titip, kayak biasa !” Saya tertawa saat itu juga, ‘kayak biasa’? Saya serasa Abang basreng langganan.

Ya, kami berdua sama-sama sudah terbiasa. Tiga jam yang ajaibnya mampu membiasakan kami satu sama lain. Awalnya saya sendiri heran, kenapa Lily mau-maunya menempel dengan Saya yang 101% membosankan.

Mungkin satu hal. Namanya juga anak-anak, ingin dipahami, ingin dimengerti, ingin dituruti, ingin diperhatikan. Fakta Lily yang punya banyak saudara ini membuat saya sedikit banyak paham tentang bagaimana senangnya Lily dapat perhatian penuh dari saya, bahkan sampai enggak rela kalau saya pergi.

“….Abisnya kakak baik.”

Duh, sedih saya waktu dia sudah banyak bicara soal ‘nanti kita ini itu ya kak..’ . Mana paham Lily kalau saya cuma bergabung satu hari.

Saya ingat wajahnya waktu bilang ‘dadah!’ sambil memegang tangan ibunya. Saya senang. Sangat. Sambil terus berdoa dalam hati  soal kemungkinan pertemuan kami lagi, soal kebahagiaan Lily, kesuksesan dan cita-citanya. Juga untuk semua anak-anak hebat yang saya temui. Yang mengajari saya banyak hal hari itu.

Pegal punggung saya hari itu. Tidak seperti biasanya di sekolah yang hanya berperan sebagai murid, hari itu saya merangkap peran. Sebagai murid-pembimbing-seorang kakak-seorang teman-dan sebuah sofa.

Sofa yang bahagia.

Penulis Nabila Putri (Angkatan 61)

Read More