image-title

Sabtu, 9 Februari 2019, Yayasan BAS mengadakan Tematik ke-2 untuk Penerima Manfaat (Beswan) Generasi 5 bertema Cinta Tanah Air dan Tafakur Alam. Tema ini dipilih karena kami meyakini, setiap penduduk Indonesia apapun bidang keilmuannya, haruslah memiliki rasa Cinta terhadap Tanah Air serta berpikir untuk melestarikan alam. Pembelajaran tersebut tidak harus melulu di dalam kelas, membangkitkan rasa Cinta Tanah Air dapat dicapai melalui kunjungan ke fasilitas publik yang sarat dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Kali ini, 20 Beswan mengunjungi 2 tempat di Jakarta yaitu Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI. Ingin tahu seperti apa keseruan kegiatan Tematik ke-2 ini, yuk simak tulisan Beswan berikut. Pertama berjudul Memaknai Kebudayaan Indonesia oleh Difa Afiyah Sucisatryani, judul kedua Belajar dari Patung (klik judul) oleh Aliefi Mutiara Syafitri. Selamat menikmati.

Memaknai Kebudayaan Indonesia

Difa Afiyah Sucisatryani

Pada hari Sabtu, 9 Februari 2018 adalah salah satu hari yang sangat berharga untukku. Pada hari itu, aku dan teman-teman dari “Beswan Gen 5” mengikuti kegiatan tematik ke-2 yang dilaksanakan di Museum Nasional dan Perpustakaan Nasional RI yang berada di Jakarta. Kenapa aku sebut sebagai hari yang berharga? Itu bukan kalimat hiperbola semata, tetapi adalah suatu fakta yang pada hari itu aku dapat mengenal sejarah budaya Indonesia lebih dalam lagi sekaligus melakukan tafakur alam.

Pembukaan yang sangat menyentuh dalam kegiatan tematik kali ini adalah ‘orang dulu lebih bijak persoalan lingkungan‘, begitulah sekiranya kalimat yang disampaikan oleh Kak Reyhan selaku tourguide saat kita berada di Museum Nasional. Jika Kalian pergi ke Museum Nasional, kalian akan disambut dengan banyaknya arca-arca Budha dan Hindu, patung-patung kuno, dan prasasti. Hal itu yang membuat mataku terpesona dengan setiap pahatan yang dibuat orang zaman dulu. Aku semakin berpikir bahwa dari zaman dahulu Indonesia sudah maju dengan ilmu pahatan di atas batunya yang  juga dipandang luar biasa oleh bangsa asing.

Akan kukenalkan salah satu patung yang menarik perhatianku dan masih aku ingat jelas bentuknya sampai saat ini. Patung itu bernamakan Kala. Digambarkan dengan sebuah kepala dengan kedua mata yang melotot menambah kesan seram pada patung tersebut. Usut punya usut, Kala digambarkan seperti itu agar menyerupai malaikat pencabut nyawa yang sebenarnya makna Kala adalah menggambarkan waktu. Semakin dipikirkan, waktu yang terbuang sia-sia akan menjadi menyeramkan disaat hari pertanggung-jawaban tiba. Dan juga waktu tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Itulah mengapa Kala digambarkan seseram itu.

Semakin menelusuri Museum Nasional, ternyata isinya tidak sebatas patung dan peninggalan-peninggalan saja. Banyak sejarah bangsa yang dituangkan di setiap sudut ruangannya. Disambut dengan peta Indonesia yang sebesar dinding, menyadarkanku bahwa Indonesia kaya akan lautnya. Jumlah daratan kalah dengan perairan di Indonesia. Kita bisa berbangga dengan memiliki pesona laut yang indah sehingga menarik perhatian para turis yang berkunjung ke Indonesia. Maka indonesia dapat disebut sebagai negara perairan. Kalian pernah mengunjungi bagian timur Indonesia? Disana ada titik terdalam sebesar 7000-8000 meter di bawah lautan.

Kunjungan ke Perpusnas RI

Sudah puas dengan melihat peradaban jaman dulu, kami kembali melangkahkan kaki menuju Perpustakaan Nasional RI (disingkat menjadi Perpusnas)  yang memiliki 24 lantai. Jangan ditanya berapa banyak buku-buku yang ada disana. Saat masuk, kalian sudah disambut oleh rak besar dengan kumpulan buku-bukunya. Kunjungan ke Perpusnas kali ini merupakan kunjungan keduaku, yang kunjungan pertama ditemani oleh teman sekelasku.

Setelah sholat dan makan siang, kami menaiki tangga menuju lantai Sembilan yang berisi naskah-naskah kuno. Menariknya, dari 2000 naskah kuno, yang ada di Indonesia hanya sekitar 10% saja. Lantas kemana 90%nya? Sisa naskah kuno Indonesia tersebar di Negara-negara Eropa. Dengan kalimatnya, Ka Agung –selaku tourguide di Perpusnas- memberitahu bahwa hanya naskah negara Kertagama saja yang berhasil direbut Indonesia dari Belanda.

Naskah-naskah yang berada disini mayoritas berasal dari bahan organik. Perlu diperhatikan bahwa naskah adalah media tulisan, bukan isi. Naskah lokal bangsa Indonesia adalah tuluang yang berasal dari kulit kayu dan menulisnya dengan menggunakan jelaga. Ada juga tradisi menulis naskah lontar yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat di Bali. Dan tradisi tersebut memang harus senantiasa dilakukan agar tidak punah.

Setelah berkeliling melihat naskah, kami duduk melingkar di ruang diskusi. Disinilah wawasanku lebih terbuka. Dengan kasus naskah kuno Indonesia yang lebih banyak di perpustakaan Eropa seperti Perpustakaan Leiden di Belanda dan British Library, aku berpikir masyarakat Indonesia terutama masyarakat milenial, seharusnya memiliki ketertarikan dengan budaya Indonesia. Sehingga nantinya Indonesia akan maju tanpa menghilangkan budayanya.

 

 

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *