Jika kau bersua dengan kejayaan dan penderitaan, dan kau mampu menanggapi keduanya dengan cara yang sama, kau akan menjadi seorang manusia, anakku! ~Rudyard Kipling

Alkemis secara harfiah adalah orang-orang yang mempelajari tentang alkimia yaitu ilmu kimia yang didasari dengan paham spiritual sehingga bertujuan untuk membuat benda-benda atau materi-materi yang tidak masuk akal. Kata alkimia berasal dari Bahasa Arab alkimiya atau al-khimiya (الكيمياء atau الخيمياء), dibentuk dari partikel al- dan kata Bahasa Yunani khumeia (χυμεία) yang berarti “mencetak bersama”, “menuangkan bersama”, “melebur”, “aloy”. Etimologi lain mengaitkan kata ini dengan kata “Al Kemi”, yang berarti “Seni Mesir”, karena bangsa Mesir Kuno menyebut negerinya “Kemi” dan dipandang sebagai penyihir sakti di seluruh dunia kuno yaitu orang yang bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Alkemis bisa mengubah batu kerikil menjadi emas, bahkan apapun yang disentuhnya akan berubah menjadi sangat berharga, sampah pun kalau disentuh sang Alkemis akan berubah menjadi emas.

Salah satu karya Alkemis adalah stone philosopher. Stone philosopher merupakan salah satu benda yang disebutkan dalam novel fenomenal Harry Potter. Memang J.K. Rowling memakai ini untuk cerita dunia sihirnya karena Alkemis pada abad pertengahan dianggap sebagai tukang sihir dan stone philosopher termasuk benda sihir yang dapat mengubah apa pun menjadi emas atau bisa mengubah keadaan dari tak berharga menjadi berharga sekali pun dalam bentuk sampah.
Kemudian mari kita perluas istilah alkemis, menjadi alkemis tak sesempit menjadi tukang sihir yang kemudian sulit dibayangkan perwujudannya bagi kita yang kenyataanya padahal semua orang bisa menjadi Alkemis. Semua orang bisa mejadi maestro, sang legenda, sang diva asal mau ‘mendengarkan’ petunjuk hidup. Petunjuk hidup yang ada di hati masing-masing (qalbu) karena hati akan terus menerus membisikan kebaikan tentang apa yang harus dikejar dan jalan apa yang harus ditempuh juga menjadi pengerem tentang apa-apa yang mesti dihentikan, tak layak untuk diteruskan. Maka bila kita mengikuti petunjuk hati, alam semesta akan mendukung setiap petualangan.

Kehadiran Yayasan Bakti Asih Sesama – BAS bagi siswa aktif bukan sekadar membantu mereka untuk membayar iuran sekolah dan uang saku karena jumlahnya yang memang tak seberapa dan belum mampu dijadikan penyokong utama kebutuhan adik-adik kita yang masih bersekolah. Program ini mengajak kita untuk berpikir visioner yaitu dengan pembekalan kepada siswa dalam domain skill, kognitif, dan attitude agar mereka mampu berwawasan sosial, berperilaku terpuji, dan lebih berpengetahuan luas, tak berhenti pada bidang ilmu analis kimia. Dengan demikian diharapkan para siswa dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab, kepedulian, dan kesanggupan menghadapi tantangan dunia kerja dan profesional selepas lulus nanti, bersinergi dengan kebutuhan di zamannya.
BAS menyediakan wadah bagi para siswa-siswi untuk memiliki kemampuan dengan cara mengambil manfaat dari kekurangan, karena seorang Alkemis mempunyai kemampuan luar biasa dalam mengubah bencana menjadi hidup baru yang menyenangkan. Jika biasanya banyak orang yang mengutuk kesalahan lalu membencinya, maka sang Alkemis punya pikiran bahwa kesalahan bukan untuk dikutuk dan dibenci karena dengan kesalahan, ia mengajari untuk mengetahui batas-batas kemampuan. Jika tak pernah salah, tidak akan tahu kalau kita bukan yang sempurna. Jika tak tahu bahwa belum hebat, tidak akan punya semangat untuk belajar dan belajar lagi. Alkemis mensyukuri kesalahan yang dibuat, mempelajari, lalu melampauinya. Alkemis mempunyai ciri utama untuk mengambil manfaat dari kemalangan. Ini membutuhkan keberanian untuk melihat kelemahan, kesalahan, dan kekeliruan yang dilakukan pada masa silam, lalu berani mengakuinya. Sikap Alkemis menuntut orang-orang untuk cukup berani menghadapi rasa malu, menyadari diri kalau masih banyak kurangnya apalagi salahnya, kemudian harus memiliki daya pegas untuk melampaui penyebab rasa malu itu.

Maka kita sebagai manusia, mari bersama-sama belajar menjadi Alkemis. Menjadikan BAS sebagai stone piloshoper untuk menciptakan alumnus baru yang lebih cerdas dan bermartabat dalam setiap domain kehidupan. Kita harus yakin bahwa belajar mengambil manfaat dari semua kemalangan itu terkadang bukan ide yang buruk.

~Formatur Yayasan Bakti Asih Sesama, 2017