image-title

Assalamualaikum Wr. Wb.

Tulisan ini dibuat untuk sekedar intermezzo, mengingatkan saya sendiri akan betapa penting dan berharganya waktu bagi kita manusia. Intinya semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan pembaca untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Aamiin.

Waktu adalah hal yang bersifat abstrak wujudnya namun sangat penting keberadaannya. Waktu diciptakan dan ada untuk menopang keberadaan atau eksistensi suatu zat. Menurut Satuan Internasional (SI), satuan waktu adalah detik meskipun banyak sekali satuan waktu yang digunakan seperti menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad, bahkan millennium.

Pertanyaannya : Mengapa sih waktu itu begitu penting?

Sebagaimana uraian di atas bahwa waktu menopang keberadaan suatu benda. Jika waktu telah berlalu terhadap suatu benda, maka benda itu akan musnah dan tidak ada lagi. Ini berlaku untuk semua makhluk dan ciptaanNya. Waktu adalah ketetapan yang sudah digariskan dan pasti akan tiba saatnya dimana waktu telah habis. Kalau saat itu tiba, kemungkinan besar keberadaan alam semesta ini sudah tidak ada lagi.

Saat saya menulis artikel ini, saya teringat akan perjalanan hidup saya dari kecil sampai sekarang. Semua berlalu cepat, sangat cepat, bahkan sangaaaat cepaaaat. Tak terasa saat ini saya berusia belasan tahun. Oh iya, terkadang saya suka menghayal lho!

Kalau saya adalah binatang, sekarang saya sudah dewasa bahkan bisa jadi sudah punya anak,
Kalau saya adalah binatang, saya sudah menyongsong usia senja alias sudah tua,
Kalau saya adalah binatang, sebentar lagi saya mati.
Memang sih ajal sudah ditentukan dan tak menutup kemungkinan bahwa yang muda pun bisa saja meninggal duluan. Tapi binatang yang usianya sudah belasan tahun saja sudah dikategorikan tua dan siap untuk dijemput nyawanya. Kembali lagi ke awal, kalau saya binatang. Kenyataannya bahwa saya adalah manusia.

Sebenarnya ada satu hal yang dimiliki binatang namun tidak dimiliki manusia, yaitu dalam hal pertanggungjawaban setelah kematian. Binatang setelah kematiannya tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, berbeda dengan manusia yang siap gak siap harus bertanggungjawab atas semua perbuatan dan amalnya. Di titik ini sebenernya agak seram, terdengar seperti sesuatu yang sangat berat.

Lantas apa yang akan terjadi pada seorang manusia? Perjalanan apakah yang menanti seorang anak Adam untuk survive di bumi ini?

Anak Adam lahir disambut dengan tangis haru dan linangan air mata bahagia orang – orang di sekitarnya. Akan tetapi di sanalah terkadang saya sedih. Kelahiran seseorang, it means, kematian sudah menunggu di sisi lain kehidupannya.
Hari demi hari dilewati dengan bahagia dan senyum terukir indah di wajahnya. Anak Adam tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya. Saat remaja ia melihat rambut ayahnya yang dahulu hitam lebat sekarang putih beruban. Waktu sangat cepat bukan?
Tak sadar anak Adam itu sudah siap menjadi seorang ayah dan bahkan orang tuanya pun sudah mendahuluinya menghadap Illahi. Padahal terasa baru kemarin ia bermain bersama orang tuanya, diantar ke sekolah, disuapi, ngobrol bareng dan masih banyak lagi.
Setiap hari, setiap jam, dan setiap detik nafas berhembus semakin pelan dan tiada henti Usia semakin tua, ibarat hari yang memasuki senja teduh nan damai. Rambut beruban, kulit keriput, tubuh membungkuk, mata semakin buram, tulang semakin rapuh. Pada titik ini, integritas dan kebijaksanaan akan berperang dengan keputusasaan. Kini anak Adam itu pun dijemput usia dan waktu berhenti bergulir untuknya. Ajal menjemputnya. . .
Bagi kamu yang suka matematika, mari saya ajak berhitung. Jika sehari kita tidur 8 jam, dan satu hari dianggap 24 jam, maka kita sudah tidur 1/3 hari. Kalau seandainya kita hidup 63 tahun, maka kita menghabiskan 21 tahun hanya untuk tidur. Siapkah kita untuk memanfaatkan sisa 42 tahun itu sebaik mungkin?

Waktu memang tak pernah berhenti. Terhitung semenjak 4,6 miliar tahun yang lalu sejak bumi pertama diciptakan, waktu tak pernah mundur. Jangankan mundur, berhenti saja tidak bisa. Oleh karena itu, manfaatkan waktu untuk hal positif. Memanfaatkan waktu dengan baik bukan berarti grasak – grusuk dan terburu – buru dalam melaksanakan sesuatu. Ingat, syaitan sukanya terburu – buru bukan? Essensi dari semua itu adalah efektif dan terarah, jelas waktu itu habis dipakai untuk ngapain aja. Ingat, efektif dan terarah!

Akhir kata, semoga tulisan ini membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam memanfaatkan waktu karena kematian, tidak dapat dipungkiri lagi, telah menanti kita di ujung sana.

Wallahu alam bisshawab

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Oleh : Yusuf Noer Arifin – Angkatan 59/Beswan Gen-2

yayasanbas

yayasanbas has blogged 510 posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *