Sebuah tulisan “BUKA” yang kutunggu-tunggu akhirnya terpampang jelas di depan sebuah pintu yang dari kemarin sangat ingin aku kunjungi. Perpustakaan di sekolahku ini adalah tempat yang sangat nyaman untuk tidur, menyendiri, browsing, galau, dan kegiatan lainnya. Sebenarnya tujuanku ke sini adalah untuk meminjam sebuah buku, tetapi dalam hati kecilku terbesit niat untuk tidur.
Seperti biasa, sebelum masuk, aku selalu memasukkan sepatuku ke dalam loker yang berada tepat di bawah jendela perpustakaan. Loker kesukaanku adalah nomor 12. Jika ada yang bertanya mengapa harus 12, aku juga tidak tahu, aku hanya suka dengan angka itu.
Saat ku buka pintu perpustakaan, aroma khas dari buku-buku serta udara sejuk dari AC bercampur menjadi satu, menjadi aroma yang sangat aku sukai. Sangat menenangkan. Begitu masuk, aku langsung mengisi daftar hadir dengan cara mengetikkan NIS ku pada komputer yang terdapat di sebelah kiri dari pintu perpustakaan ini. Dengan begitu aku pun sudah terdaftar menjadi pengunjung perpustakaan pada hari itu.
Setelah mengisi daftar hadir, tubuhku secara otomatis menuju ke arah kiri, dimana rak-rak di bagian itu adalah letak dari buku-buku organik yang sedang aku butuhkan. Diatas rak paling ujung, terdapat sebuah cermin besar yang menempel di dinding. Biasanya cermin itu digunakan siswa untuk ‘mirror selfie’.
Sesudah aku mendapatkan buku yang akan aku pinjam, aku pun menuju tempat yang terletak tepat di belakang komputer absensi. Di sana terdapat sebuah area, berbentuk kotak yang dibatasi rak dengan tinggi kurang lebih 120 sentimeter. Area itu digunakan sebagai tempat guru pengelola perpus, dan biasanya jika siswa ingin meminjam buku, maka harus mengurusnya di tempat tersebut.
Tepat di dinding depan pintu masuk, terdapat satu meja dan satu buah komputer yang biasanya digunakan oleh pengelola perpustakaan. Di sebelah kiri dari meja tersebut, berjejer meja dan kursi untuk membaca dengan pemandangan depan sekolah yang dibatasi oleh dinding kaca. Itu lah mengapa perpustakaan menjadi tempat yang terang tanpa menggunakan lampu, tetapi tentu hanya saat siang hari.
Aku selalu pergi ke arah kanan dari pintu, karena di sana terdapat meja besar yang berisi kurang lebih 12 komputer. Di sebelahnya juga ada area luas, berisi dua meja besar, dengan kursi mengelilingi meja tersebut. Di sana juga terdapat rak di sepanjang dinding yang berisi tentang laporan-laporan Prakerin dari kakak kelas saat menjalani Praktik Kerja Industri dulu. Nantinya laporanku juga akan berada di sana.
Di sudut ruang itu juga ada ruang kecil, yang dianggap sebagai gudang. Dan tepat di depan pintu tersebut, terdapat karpet hijau yang seharusnya digunakan sebagai tempat diskusi ‘lesehan’, tetapi kebanyakan siswa menggunakan tempat tersebut untuk tidur, termasuk aku. Banyak alasan mengapa perpustakaan tempat yang paling nyaman untuk tidur, diantaranya karena tenang, jauh dari ruang kelas yang berisik oleh siswa, dan tentu saja sepi. Bagaimana tidak sepi jika hanya beberapa orang yang sering mengunjungi perpus ini? Aromanya juga segar. Ditambah pemandangan atap perpus yang indah, terbuat dari eternit membentuk pola yang bagus dan tentu banyak tempat tersembunyi untuk tidur.
Akan tetapi, saat aku hendak merebahkan diri di atas karpet hijau, tiba-tiba saja bel masuk berbunyi. Tentu saja rencana tidurku gagal karena aku harus kembali ke kelas.
Oleh Mutiara Nanda (Angkatan 61/ Beswan Gen-4)