Halo-halo, Sobat BAS!

Upin Ipin beli benih

Mampir dulu ke Bengkulu

Apa kabarnya, nih?

Semoga sehat selalu!


Terima kasih atas antusias kalian semua yang telah mendaftar Program Beswan Gen 8.

Kali ini akan ada informasi yang ditunggu-tunggu sama kalian, nih!

Yap, benar!

Hasil seleksi administrasi sudah bisa kalian liat! Yuk, cek langsung namamu disini:

Continue reading Pengumuman Calon Beswan Yang Lolos Seleksi Administrasi
Read More
image-title

Yang patah tumbuh yang hilang berganti,
tiba saatnya mengangkat sauh,
wajah-wajah baru siap kami nanti!


Halo-halo, Warga Analis!

Tahun 2022 sudah menapaki bulan ketujuh nih, sekaligus menandai bahwa perjuangan luar biasa kita sudah lebih dari dua tahun lamanya. Selama dua tahun ke belakang bukan tahun yang mudah bagi siapapun di antara kita. Namun bukannya melemahkan, dari tahun yang luar biasa ini kita semua dibentuk, agar menjadi pribadi yang kuat, juga yang mampu menguatkan.

Dengan semangat berbagi kebaikan yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya, Yayasan BAS kembali berkolaborasi dengan HASKA dan siap merangkul teman-teman warga analis untuk bergabung dengan Program Beasiswa Generasi ke-8!

Continue reading Program Beasiswa Generasi ke-8
Read More
image-title

Ganasnya virus Covid-19 yang tak kunjung usai mulai memberikan efek domino terhadap masyarakat Indonesia. Dilihat dari sudut pandang manapun tidak ada yang merasa bebas dari efek ini. Mulai dari dunia kerja yang membuat bayak karyawan terkena PHK dan berujung pada krisis ekonomi rumah tangga. Bahkan, dunia pendidikan juga mengalami hal ini, di mana para siswa diharuskan belajar secara online. Hal ini tentu saja membuat ilmu yang mereka dapatkan kurang maksimal karena banyak kendala yang dialami, seperti gangguan sinyal. Selain proses pembelajaran yang harus dilakukan secara online, kegiatan keorganisasi juga terpaksa dilakukan dari jarak jauh melalu aplikasi online.

Kegiatan keorganisasian Yayasan BAS untuk para beswan gen 6 dilakukan tanpa adanya tatap muka. Mulai dari kegiatan tematik rutin yang diadakan tiap bulan, hingga penutupan pun dengan berat hati hanya dilakukan melalui aplikasi online, Zoom Meeting. Aplikasi berbasis online yang menyediakan layanan konferensi video. Kegiatan penutupan ini tidak seperti biasanya dan sangat terasa berbeda dibandingkan dengan penutupan untuk beswan gen-gen sebelumnya.

Kala itu, tepat di seminggu pertama bulan November tahun 2021 kegiatan untuk beswan gen 6 resmi ditutup. Tetap dengan keceriaan beswan gen 6 yang beranggotakan 15 pelajar dengan senyum lebarnya sebagai tanda mereka tetap semangat di tengah keterbatasan yang sedang mereka rasakan. Moderator sudah mulai mengambil alih dan mereka, beswan gen 6 dengan jaket berwarna biru dongker bertuliskan “Bakti Asih Sesama” di punggung dan lambang yayasan di dada bersiap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penutupan.

Sambutan dari pembina alias Kang Rifqi Arifin menjadi pembuka dari rangkaian kegiatan penutupan ini. Tak hanya sebatas sambutan, beliau juga banyak bercerita dan berbagi pengalaman hidup kepada beswan gen 6. Kegiatan ini dihadiri oleh banyak alumni yang bergabung dalam Yayasan BAS, bahkan Bu Hilda pun turut serta menghadiri kegiatan ini di tengah kesibukannya sebagai guru volumetri SMK-SMAK Bogor.

Kegiatan selanjutnya adalah momen tepat untuk mengeluarkan seluruh unek-unek yang selama ini hanya sanggup untuk dipendam. Mulai dari tawa ringan hingga terbahak-bahak, tetapi keadaan bisa berubah dengan cepat dan berujung pada linang air mata. Tak terasa kebersamaan yang mulai dibentuk sejak Februari silam harus berakhir di bulan November. Hanya kebersamaan di setiap kegiatan yang harus berakhir, tetapi beswan gen 6 tetaplah beswan gen 6 yang selalu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Setelah beswan gen 6 merasa cukup mengeluarkan isi hatinya dan mengenang kembali perjalanan mereka, kegiatan dilanjutkan dengan obrolan seru dengan ketua Yayasan BAS, Kak Dafid. Deg. Beliau mengatakan akan mengumumkan urutan siswa berprestasi dan tulisan-tulisan popular terbaik. Baru saja beswan gen 6 merasa rileks, tiba-tiba suasana menjadi campur aduk. “Coba buka amplop coklatnya, yuk!” ujar Kak Dafid.

Beberapa hari sebelum kegiatan penutupan, Yayasan BAS mengirim dresscode dan amplop coklat yang boleh dibuka saat penutupan berlangsung ke rumah masing-masing beswan. Ternyata amplop coklat itu berisi sertifikat bagi para beswan berprestasi dan beberapa tulisan popular yang terpilih menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Raut wajah beswan gen 6 seketika berubah menjadi ceria kembali setelah membuka amplop yang selama ini dirahasiakan oleh yayasan.

Delapan beswan dengan nilai tertinggi mendapat apresiasi lebih dari yayasan, tetapi 7 lainnya pun tetap juara di hati yayasan. Selain itu, tulisan populer yang selama ini ditulis oleh para beswan setelah mengikuti kegiatan tematik sangat diapresiasi oleh yayasan. 7 tulisan terpilih juga mendapat apresiasi lebih dari yayasan. Namun, mereka, beswan gen 6 yang tulisannya belum terpilih tetap semangat dan tidak berkecil hati.

Kegiatan penutupan acara beswan gen 6 ditutup dengan foto bersama ke-15 beswan dan seluruh anggota yayasan yang turut serta hadir dalam kegiatan tersebut. Senyum lebar masing-masing beswan terlihat jelas seraya mengangkat sertifikat terbaik yang mereka raih. Gaya andalan dengan membentuk angka dua pada jari-jemari mereka berhasil direkam dengan jelas di setiap detik pengujung kegiatan itu.

Setelah sesi foto bersama berakhir, moderator kembali mengambil alih kegiatan penutupan yang diselenggarakan secara online itu. Seraya mengucapkan selamat kepada peraih nilai tertinggi dan tulisan terpilih, moderator mengakhiri kegiatan penutupan acara beswan gen 6. Salam hangat menutup kegiatan online yang diadakan di hari Sabtu dengan diikuti 15 beswan gen 6 dari rumah masing-masing.

Pandemi bukanlah alasan untuk rehat. Mereka semua menunjukkan bahwa dalam keadaan apapun harus tetap semangat, Walaupun kegiatan sudah berakhir, tetapi 15 beswan gen 6 tetap bersahabat. Bulatkan niat, usaha yang giat, menuju beswan gen 6 yang hebat. Kegiatan ini hanyalah sebatas tamat yang tetap terikat.

Penulis: Qotrunnada Linggar Pinanditi

Read More

Korek api merupakan alat yang menjadi bagian dari kenanganku saat dulu hingga sekarang. Dahulu aku tidak takut dengan korek api, sampai suatu hari aku mencoba menyalakan api. Api yang nyala mengenai tanganku dan menyebabkan tanganku melepuh. Semenjak itu, aku tidak mau lagi bermain atau memegang korek api kayu.

Setelah sekian lama aku tidak menggunakan korek api kayu, sekarang aku diwajibkan untuk menggunakan korek kayu karena resmi menjadi murid SMAKBO. Hari pertama bersekolah, aku langsung belajar di Laboratorium Gravimetri. Laboratorium ini digunakan untuk analisis sampel berdasarkan bobot.

Aku yang baru pertama kali mendengar hal itu sama sekali tak terbayang apa yang akan dilakukan di dalam laboratorium ini. Aku akan belajar di sini sebanyak 3 kali dalam 1 minggu karena pembelajaran menggunakan sistem blok. Hari pertama pembelajaran, aku dan teman kelas bersiap di depan laboratorium. Waktu menunjukkan pukul 7 dan pintu laboratorium terbuka.

Kak Gea keluar dari dalam dan memberikan arahan kepada aku dan teman kelas.“Selamat pagi semua, sekarang kalian masuk lalu berdiri di meja tengah” ujar Kak Gea dengan nada tegas. Kami semua masuk dan berdiri rapih di meja tengah. Kemudian Kak Gea memulai pembelajaran dengan berdoa lalu membacakan aturan yang harus dilaksanakan di dalam laboratorium ini.

Kami mendengarkan seluruh aturan yang dibacakan oleh Kak Gea. Setelah selesai membacakan aturan, Kak Gea memberi waktu kepada kami untuk melihat apa saja yang ada di dalam laboratorium ini.

 “Kalian diberi waktu untuk melihat apa saja yang ada di dalam laboratorium ini. Kalian harus tetap kondusif, jangan berisik” ujar Kak Gea dan kami serentak menjawab “Baik kak”. Aku dan teman-teman langsung meyebar untuk melihat apa saja yang ada disitu. Aku mencatat beberapa informasi salah satunya adalah simbol-simbol bahaya yang tergantung di dinding. Hampir 20 menit kami berkeliling, terdengar suara Kak Gea yang menyuruh kami untuk kembali kumpul di meja tengah.

“Kalian sudah berkeliling di laboratorium ini. Kalian akan membuat laporan khusus pertama mengenai denah laboratorium dan jangan lupa besok kalian harus membawa korek api kayu” ujar Kak Gea. Mendengar hal itu, aku sedikit kaget karena mengingat pengalaman burukku dengan korek api kayu, tetapi aku harus tetap membawanya agar tidak terkena sanksi.

Keesokan harinya, aku datang pagi agar tidak terlambat kemudian bersiap-siap di depan loker coklat tempatku menaruh barang. Tak lupa aku keluarkan korek api kayu dari dalam tas dan aku simpan di dalam saku jas labku. Tepat jam 7 pagi, kami sekelas masuk ke dalam laboratorium, di depan meja tengah sudah ada Ibu Nina dan Kak Gea. Kami berdoa terlebih dahulu lalu Kak Gea membagi kami berpasangan, yang nantinya akan menjadi partner selama praktikum di sini.

Setelah pembagian partner selesai, selanjutnya adalah pembagian posisi meja kerja. Aku dan 3 temanku berada di meja 3 deret 2.  Aku langsung menuju meja 3 dan berdiri di depannya. Baru beberapa menit berdiri, Ibu Nina datang ke meja 3 kemudian memulai pembelajaran.

“Anak-anak, kalian hari ini akan belajar bagaimana cara menggunakan teklu dan mekker. Sekarang ambil teklu dan mekkernya di kardus bawah ruang asam ya” perintah Ibu Nina. Anggota meja 3  semuanya mengambil teklu dan mekker kemudian dipasang di meja kerja masing-masing.

Setelah dipasang, Ibu Nina menyuruh kami untuk mengeluarkan korek api kayu untuk menyalakannya. Mendengar itu, aku mulai takut dan gelisah karena aku tidak bisa menyalakan api dari korek api kayu.

“Ayo semuanya mulai nyalakan api di teklu ya, atur supaya apinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil” perintah Ibu Nina. Ketiga temanku sudah mulai menyalakan teklu, tetapi aku hanya terdiam dan panik karena tidak berani menggunakan korek api kayu. Melihat aku yang terdiam sambil sesekali tengok kanan kiri, Ibu Nina datang menghampiriku.

“Nana, kamu kenapa diam saja? Teman-teman yang lain sudah mulai menyalakan teklu” tanya Ibu Nina.

“Maaf bu, saya takut untuk menggunakan korek api ini karena dulu saya punya pengalaman buruk dengan korek api ” jawabku.

“Ayo kamu coba, harus sampai bisa” jawab Bu Nina.

Melihat itu, teman samping kananku yaitu Nisa menepuk pundakku dan memberikan semangat. Aku memberanikan untuk menyalakan api dari korek. Setiap api sudah tersulut aku terus mematikannya karena aku takut api akan mengenai tanganku dan membuat tanganku melepuh.

Karena terlalu lama, Ibu Nina memaggil lagi namaku dan berbicara “Nana, masih belum bisa juga? ibu akan tunggu kamu sampai bisa dan sampai magribpun akan ibu tunggu”. Mendengar hal itu, perasaanku semakin kacau, aku tak tau harus apa karena disatu sisi aku merasa takut tetapi di sisi lain aku tidak enak dengan Ibu Nina dan teman sederetku.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba lagi dan lagi. Sampai saat batang korek ke 8, aku baru bisa menyalakan apinya. Setelah berhasil, hatiku lega sekali rasanya.

“Itu kamu bisa, tidak terjadi apa-apa dengan tanganmu kan” ujar Bu Nina. Aku hanya tersenyum dan menjawab “Tidak Bu, tangan saya baik-baik saja”. Temanku Nisa menepuk pundakku dan berkata “Jangan takut lagi ya”, “Iya, terima kasih Nisa” kataku membalas ucapannya.

Kejadian ini membuat aku tidak takut lagi dengan korek api kayu, dan kalau kalian bertanya “Kamu sudah bisa nyalakan api dari korek api kayu?” aku dengan bangga akan menjawab “Ya, aku sudah bisa”. Aku tidak akan malu karena aku merasa bangga bisa melawan rasa takutku dan berhasil melewati salah satu ketakutan yang aku alami selama ini.

Korek api kayu sekarang tidak lagi menjadi kenangan yang buruk bagiku karena sekarang aku sudah bisa menggunakan korek api dengan baik. Sampai sekarang kejadian itu masih terbesit dipikiranku dan menjadi pengalaman pertama bersekolah di SMAKBO.

Penulis: Devina Angkawidjaja (SMAKBO Angkatan 63/ Beswan Generasi 6)

Read More

Secara harfiah, arti toxic people adalah orang yang beracun. Seseorang dianggap menjadi racun ketika ia menebarkan sesuatu yang negatif ke lingkungan sekitarnya. Seringkali toxic people ditemukan melalui media sosial. Namun, dalam kehidupan nyata juga banyak.

Seseorang yang masuk kriteria toxic people biasanya hidupnya sulit bahagia karena dibayang-bayangi rasa tidak puas, sering mengeluh dan merasa resah. Mereka juga mempunyai sikap egois dan hanya berteman untuk kepentingan pribadinya saja. Untuk itu, kita perlu mengetahui ciri-ciri dari toxic people.

Menurut artikel yang saya baca, toxic people memiliki ciri utama, yaitu playing victim. Dalam artian ini adalah sebuah permainan atau drama yang ia buat sendiri. Ia akan bersikap seolah-olah dia adalah korban dari permasalahan ini. Kemudian, ia akan merasa dipojokkan dan ia memanipulasi cerita agar mendapatkan perhatian dan dibela oleh orang lain.

Contohnya, dalam kasus Ratna Serumpaet yang mengaku korban pengeroyokan. Seketika menjadi trending topic di media sosial, twitter. Hal tersebut berhasil menarik perhatian tokoh-tokoh politikus dan pengguna media sosial. Mereka buka mulut dan  meminta pihak yang berwajib untuk mengusut kasus ini. Namun, ternyata foto dengan muka bengkak dan memar itu adalah hasil dari sedot lemak yang ia kirim ke anaknya. Mungkin karena gengsi atas hasil yang tidak memuaskan, Ratna memanipulasi cerita. Akibatnya, hal tersebut memberi dampak yang buruk bagi orang lain dan dirinya.

Ciri lain dari toxic people adalah sering menghalangi kesuksesan temannya. Ini dimulai ketika awalnya ia menyemangati kamu bahkan mendorong kamu menuju kesuksesan, namun ternyata sebaliknya. Kamu malah dijatuhkan dengan kata-kata yang ia lontarkan dan mengubah persepsimu tentang kesuksesan. Misalnya, ia berkata “Sudahlah, puas-puasin aja mumpung masih muda, kalau sudah tua susah untuk melakukan hal seperti ini.” Hal tersebut akan menghasut lingkungannya dan bisa menghambat kesuksesan seseorang. Meskipun masa muda itu waktunya untuk menikmati hidup, tapi kamu harus ingat tanggung jawab itu adalah bagian dari mengejar kesuksesan di masa depan.

Untuk mencapai kesuksesan, pasti kita akan melalui masa dikritik oleh orang lain atas kerja keras yang kita lakukan. Tetapi, beda halnya mengkritik dengan kata-kata yang kurang pantas. Nah, hal tersebut merupakan salah satu ciri dari toxic people juga. Akibat kritikannya, ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan bisa dibilang ia mempunyai cara berpikir yang tidak seimbang. Sebagai seorang teman, sudah sewajarnya untuk mengingatkan jika kita melakukan hal yang buruk. Tetapi, bukan berarti ia berhak untuk selalu mengkritik diri kita menggunakan kata-kata yang kurang enak didengar. Misalnya dengan kalimat, “Tulisanmu jelek, mirip kaya ceker bebek, anak SD (Sekolah Dasar) aja gak bakal bisa membaca tulisanmu.” Dari kritikan tersebut, tentu saja membuat semangat kita jatuh.

Sebaiknya, berkritiklah dengan baik dan ditambah dengan adanya solusi, itu akan lebih membantu. Misalnya, “Tulisanmu ini kurang rapi. Sebaiknya kamu latihan kembali menulis yang rapi agar tulisanmu menjadi lebih baik dan terbaca oleh siapapun.” Ini akan lebih bisa diterima dan membuat lebih semangat.

Setelah mengetahui ciri-cirinya, kamu bisa tahu siapa saja di lingkunganmu yang termasuk ke dalam kategori toxic people. Dari situ, kamu bisa membuat batasan dalam berinteraksi dengannya. Tetapi, bukan berarti kamu menolak semua ajakannya.

Dengan adanya batasan ini, bukan untuk membuat ia merasa dipojokkan, tetapi untuk menyelamatkan lingkungan pertemanan. Jika kamu selalu  mengikuti apa yang ia katakan, itu akan menyebabkan hal negatif pada diri kamu dan dia. Ia akan ketergantungan kepada kamu dan membuat dia tidak bisa berusaha dengan maksimal. Dan hal negatif bagi kamu adalah kamu akan merasa dirugikan karena itu akan mengganggu waktumu dan menghambat aktivitasmu.

Akan ada saatnya di mana kita merasa hanya dimanfaatkan saja oleh teman. Pikiran tersebut wajar saja lewat di pikiran kita, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Tetapi setelah kita melakukan apapun untuk ia, balasannya selalu membuat kita kecewa.

Apabila kita merasa tersiksa karena tingkah laku yang ia buat, dan segala hal yang kita lakukan nampaknya sama sekali tidak membuat ia berubah, maka tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu butuh mereka di dalam hidupmu? Ketika kita menjauhkan diri dari toxic people, hidup terasa lebih nyaman. Menjauh bukan berarti kita membenci mereka, tapi itu adalah bukti bahwa kita menyayangi mereka.

Penulis: Nandina Choirunnisa

Read More